Kembali Digelar, DTW Jatiluwih Alokasikan Rp 400 Juta untuk Festival

39
Sejumlah wisman bersantai menikmati keindahan DTW Jatiluwih.

Tabanan (bisnisbali.com) -Tahun ini Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih kembali menggelar festival. Ajang tahunan yang digelar untuk kali ketiga ini mengalokasikan anggaran hingga Rp 400 juta yang bersumber dari dana promosi DTW Jatiluwih.

“Dana tersebut untuk membiayai empat bulan kegiatan festival yang telah dimulai dengan ajang pra festival pada Juni 2019 lalu bertepatan dengan musim panen, hingga nanti pada puncaknya yang akan di gelar pada 20 September-22 September 2019 nanti,” tutur Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, di sela-sela pemaparan terkait persiapan festival di Jatiluwih, Selasa (17/9).

Terangnya, selain memanfaatkan alokasi dana promosi dari DTW Jatiluwih, pihaknya juga mendapat dukung dana dari Pemerintah Kabupaten Tabanan khususnya dari Dinas Pariwisata mencapai Rp 136 juta. Imbuhnya, bantuan juga datang dari Kementerian Pariwisata dalam bentuk barang penunjang kegiatan festival.

Papar Sutirtayasa, pada pra festival atau Juni lalu kegiatan diwarnai diantaranya berupa edukasi permainan tradisional yang melibatkan siswa SD di Desa Jatiluwih dan desa penyangga. Harapannya, dari kegiatan tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang selama ini menyumbang 80 persen dari total kunjungan ke DTW Jatiluwih, selain menikmati panorama alam yang ada di kawasan wisata Jaliluwih. Lanjut pada bulan berikutnya, pra festival Jatiluwih melibatkan 17 SMA dan SMK Kabupaten Tabanan dalam kemah budaya pertanian.

“Pada kemah budaya ini kami menonjolkan edukasi pertanian, semisal kegiatan membajak sawah (matekap) dan juga workshop terkait pertanian sekaligus bisa jadi jembatan bagi terbentuknya Jatiluwih lainnya di Kabupaten Tabanan  dengan menggunakan terasiring sebagai daya tarik untuk pariwisata.

Pada Agustus lalu, sambungnya pra festival dilanjutkan dengan kegiatan pemilihan Duta Hijau. Tujuannya, membentuk generasi muda Bali untuk mengedukasi kalangan milenial agar potensi yang ada di dalam pertanian atau alam bisa dibiaskan keseluruh Bali secara umum. Katanya, puncak festival nanti yang mengambil tema Glorifying Dewi Sri for prosperity and harmony (Memuliakan Dewi Sri untuk Kesejahteraan dan Harmoni) akan berlangsung mulai 20 hingga 22 September 2019 nanti.

Lanjutnya, hakikat Dewi Sri dalam falsafah Bali adalah perihal kuasa atas kelahiran dan kehidupan, representasi yang disimbolkan dengan ketersediaan pangan di bumi terutama padi. Paparnya, memuliakan Dewi Sri mengandung pemahaman dan pesan agar proses yang terdapat di Jatiluwih ini menjadi perhatian bagi semua untuk diyakini, di dorong dan dijalankan sebagai laku lampah memelihara dan melestarikan padi dalam relasinya sebagai aspek penting dalam memaknai kelahiran dan kehidupan untuk kesejahteraan dan harmoni.

“Hal ini berelasi erat dengan pemaknaan Tri Hita Karana sebagai hubungan integral antara tuhan, manusia dan alam,” ujarnya.

Sementara itu, tambahnya Jatiluwih Festival 2019 mencakup keikutsertaan komunitas masyarakat Jatiluwih dalam menampilkan seni dan budaya tradisional. Termasuk juga menampilkan produk unggulan dan kuliner khas Jatiluwih, pameran photo dari komunitas photographer Tabanan serta akan diisi dengan mural art dan beberapa workshop berhubungan dengan alam dan budaya.*man

BAGIKAN