Teknik Jaring Gelar Panen Benih Nila lebih Menguntungkan  

32
BENIH - Petani melakukan teknologi jaring gelar saat panen benih ikan nila.

Singaraja (bisnisbali.com) –Kebutuhan benih ikan nila di Bali cukup tinggi dan belum mampu dipenuhi oleh para petani pembibitan ikan nila, sehingga benih banyak didatangkan dari luar Bali. Kendala pembibitan selama ini adalah tingginya benih yang mati, saat di panen. Namun dengan teknik jaring gelar 100% benih ikan hidup dan siap dibesarkan.

Cara panen benih ikan nila menjadi kunci sukses dan tidaknya budi daya pembesaran ikan nila. Cara panen yang salah menurut Ir. I Made Kawan, Mp., Dosen Teknologi Pembenihan, Fakultas Pentanian Universitas Warmadewa, bisa berdampak pada matinya sebagian benih ikan dan juga lambatnya perkembangan ikan dalam pembesaran.

Selama ini petani ikan nila yang tergabung dalam kelompok Mina Anakan Jepun, Desa Bebetin, Sawangan, Kabupaten Buleleng panen bibit dengan cara tradisional dan 50% dari benih akan mati. “Melihat persoalan yang dihadapi petani ikan ini, kami lakukan pendampingan dengan menggunakan dana hibah dari Universitas. Kami dampingi petani ikan dan lakukan transfer teknologi sehingga hasil panen lebih banyak,” tutur Made Kawan.

Dikatakan kebutuhan benih ikan nila di Bali, khususnya untuk petani ikan apung di Batur, membutuhkan banyak bibit. “Sekarang sedang kekurangan benih ikan, karena petani ikan di Batur baru habis panen jadi membutuhkan banyak benih. Jadi budi daya pembenihan ikan nila sangat menjanjikan,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan benih ikan yang banyak dan berkumpul dikatakan ada sejumlah teknologi sehingga menghasilkan benih yang sesuai dengan kebutuhan untuk pembesaran maupun yang mampu bertahan hidup dalam pengiriman dan pembesaran.

“Teknologi pertama yang kami berikan kepada petani ikan adalah dengan menggunakan jaring gelar saat panen benih. Biasanya petani panen benih bersamaan dengan induknya, sehingga induknya yang menggelepar membuat lumpur masuk ke dalam insang benih ikan yang berdampak 50% benih menjadi mati,” terangnya. Benih yang hidup pun, membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk menyembuhkan diri, sehingga perkembangannya terhambat.

“Teknologi ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu sebelum kolam dikeringkan pasang dulu jaring lalu keringkan kolam. Begitu air berkurang beri pakan pada bagian tengah jaring, sehingga ikan berkumpul, lalu angkat jaring dan letakkan benih di bak penampungan,” terangnya.

Setelah itu baru dilakukan greading atau penyeragaman ukuran. Ukuran 5-7 cm harga Rp400/ ekor, ukuran 7-9 cm Rp500 dan ukuran 9-12 cm Rp600, harga di tingkat petani belum ongkos kirim.

“Dengan menggunakan teknologi jaring gelar ini, benih dari kelompok tani sudah terkenal kualitasnya yaitu daya hidup tinggi dalam pengiriman dan membutuhkan waktu lebih pendek dalam pembesaran,” tukasnya.

Kelompok tani ikan yang dibina semakin banyak, dengan harapan mampu memenuhi kebutuhan benih ikan di Bali. Termasuk unit pemeliharaan rakyat (UPR) yang merupakan bantuan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng. Dari lahan 30 are, per bulan petani ikan mampu menghasilkan 10  ribu benih ikan nila.*pur

BAGIKAN