Kantongi Sertifikasi, Salak Madu Munduk Temu Siap Bersaing di Pasar Ekspor

34

Tabanan (bisnisbali.com) –Setelah berhasil mengantongi sertifikasi, salak madu produksi Banjar Muduk Temu, Desa Kebon Jero Kecamatan Pupuan Tabanan diharapkan siap bersaing di pasar ekspor.

Salah satu petani salak madu, sekaligus Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Batur Sari Kebon Jero, Munduk Temu Pupuan Tabanan, Ketut Suardika, S.E., Jumat ( 13/9) mengungkapkan, per 27 Agustus 2019 lalu komoditi salak madu produksi Kabupaten Tabanan sudah mengantongi sertifikasi varietas dengan terdaftar di Kementerian Pertanian RI. Imbuhnya, dari sertifikasi varietas tersebut ada banyak hal positif yang didapat. Mulai dari peluang dengan makin terbukanya lapangan pekerjaan bagi petani khususnya di bidang pertanian salak madu, sebagai sumber PAD bagi Pemerintah Kabupaten Tabanan, dan terpenting lagi adalah salak madu menjadi komoditi yang siap bersaing di pasar ekspor.

“Mengantongi sertifikasi varietas, maka jangka panjangnya memberi harapan kepada masyarakat atau petani salak madu untuk bisa memasarkan produk tidak hanya di dalam negeri, namun juga menembus ekspor,” tuturnya.

Jelas Suardika, sebab syarat komoditi pertanian untuk bisa menembus pasar ekspor di antaranya adalah harus mengantongi sertifikasi varietas dan sudah mememenuhi standar mutu ekspor dalam hal budi daya. Katanya, bercermin dari itu untuk salak madu ini sudah berani untuk bersaing, namun memang masih banyak hal yang harus dipersiapkan lebih lanjut, sehingga betul-betul bisa mantap bersaing di pasar ekspor.

“Masih ada proses panjang dan proses itu harus diikuti petani, sehingga petani salak madu tidak hanya terkesan sebagai buruh tani saja, namun bisa juga menikmati keuntungan atau nilai lebih dari ekspor,” ujarnya.

Sambungnya, tidak hanya siap bersaing di pasar ekspor, prediksinya dengan mengantongi sertifikasi maka pangsa pasar salak madu untuk di dalam negeri khususnya pada perhelatan akbar atau ajang bergengsi bertaraf internasional, salah satunya seperti ajang Asian Games yang diadakan di Jakarta beberapa waktu lalu akan mudah masuk sebagai sajian lokal yang ditawarkan pada ajang tersebut.

Sebab akuinya, dari pengalaman di ajang Asian Games di Jakarta lalu, produksi salak madu Munduk Temu ini tidak bisa masuk sebagai komoditi pertanian lokal untuk jamuan, karena terganjal belum mengantongi sertifikasi varietas.

“Kini dengan sudah mengantongi sertifikasi varietas lokal, hal tersebut tentu tidak menjadi sebuah ganjalan bagi komoditi salak madu untuk masuk sebagai jamuan di acara bertaraf internasional,” kilahnya.

Harapannya, kini setelah mengantongi sertifikasi, pemerintah daerah bisa terus berperan untuk mengawal berupa pendampingan ke petani, sehingga petani bisa mampu berproduksi dengan kualitas atau mutu yang makin baik. Di antaranya, mulai dari pembibitan, penanaman, budi daya, hingga memasuki pasar ekspor nantinya.*man

BAGIKAN