Turis Sepi, Usaha Rafting di Sungai Telaga Waja kian Menyusut

30
Usaha rafting yang dulu pernah beroperasi di Sungai Telaga Waja, Karangasem, kini tak sedikit yang tutup atau bangkrut.

Amlapura (bisnisbali.com) – Dari 13 lebih usaha rafting yang dulu pernah beroperasi di Sungai Telaga Waja, Karangasem, sudah enam yang tutup atau bangkrut. Kini tinggal tujuh usaha rafting  yang beroperasi.

Hal itu disampaikan salah seorang pengusaha rafting sungai Telaga Waja, I Gede Agus Kertiana. Pemilik Bali Mitra Wahana (BMW) Rafting, wisatawan yang rafting belakangan juga agak sepi. Sebab, secara umum memang terjadi penurunan kunjungan wisman, selain sudah memasuki high season.

Agus Kertiana yang kini anggota DPRD Karangasem asal Rendang itu mengatakan,  selain memang ketatnya persaingan yang menyebabkan pengusaha rafting mundur atau tak beroperasi, situasi diperparah lagi setelah terjadi gejolak Gunung Agung disusul erupsi. Banjir lahar dingin yang membawa lumpur abu, menghanyutkan serta batu-batu besar dan batang kayu hutan. Banjir itu benar-benar merusak alur sungai. Selain terjadi gerusan seperti tampak di daerah aliran sungai di sebelah jembatan Telaga Waja, juga menyebabkan ada bangunan kantor rafting yang hancur. ‘’Kini tinggal tujuh usaha rafting yang masih beroperasi, termasuk usaha milik saya,’’ katanya.

Agus Kertiana yang juga Wakil Ketua DPRD Karangasem itu mengatakan, karena usaha rafting di sungai Telaga Waja banyak yang bangkrut, sementara yang masih bertahan juga sepi kunjungan wisatawan, menyebabkan pekerja rafting yang sudah berpengalaman dan sudah mahir menjadi pemandu, pada akhirnya juga banyak yang mengundurkan diri dari Telaga Waja. Mereka memilih pindah kerja ke rafting di Ayung atau di Ubud yang lebih menjanjikan. ‘’Usaha rafting di Ubud masih stabil, entah apa rahasianya,’’ papar Agus Kertiana yang juga mengurus asosiasi rafting  di Telaga Waja itu.

Ditambahkan, belakangan ini, memang sudah ada peningkatan kunjungan ke rafting. Per hari ada 40 sampai 60 orang. Namun hal itu masih jauh dari harapan, karena dulu saat situasi masih baik, sehingga banyak usaha masih bisa beroperasi, rata-rata yang rafting sehari 80 sampai 100 orang. ‘’Selain dari Cina, yang hobi atau suka menjajal alur sungai Telaga Waja juga dari Arab,’’ kata Agus.

Menurutnya,  masih perlu dilakukan  promosi wisata khususnya rafting ke Telaga Waja. Pemkab Karangasem diharapkan gencar melakukan promosi. Wisatawan selain diajak ke Karangasem, juga diyakinkan bahwa berwisata ke Karangasem dan rafting di sungai Telaga Waja, masih sangat aman. ‘’Pemkab juga harus menyediakan prasarana di alur rafting untuk keamanan dan kenyamanan. Fasilitas seperti tangga di terjunan yang terjal karena merupakan bendungan, sudah dari dulu diharapkan operator, tetapi belum juga disediakan dengan  alasan sejumlah kendala,’’ tandasnya. *bud

BAGIKAN