Kursi Roda Adaptif Tingkatkan Kualitas Hidup Penyandang Disabilitas

32

Denpasar (bisnisbali.com) –Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia, menurut data dari Kementerian Sosial RI (tahun 2011) mencapai 3,11 persen, atau sebesar 6,7 juta  jiwa.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, jumlah penyandang disabilitas jauh lebih besar lagi, yaitu 6 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Akan tetapi, bila mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 10 perseb dari total penduduk atau sekitar 26 juta jiwa.

Dari total ini, jumlah penyandang disabilitas tertinggi berada pada usia produktif antara 18 hingga 60 tahun. Ragam disabilitas mencakup disabilitas fisik, intelektual, mental dan sensori. Penyebab disabilitas pun beragam, ada yang sejak lahir, sakit, bencana atau kecelakaan.

Penyandang disabilitas ini menjadi kelompok yang rentan miskin karena tingkat partisipasi yang rendah dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, pelatihan, penempatan kerja, dan lain-lain.

 Penyandang disabilitas juga  tereksklusi dari lingkungan sosial serta akses terhadap fasilitas dan layanan publik terbatas. Untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas penyandang disabilitas, penyediaan alat bantu yang sesuai dengan jenis disabilitas merupakan kebutuhan penting.

Sebagai upaya  pemenuhan alat bantu yang sesuai dengan penyandang disabilitas, United Cerebral Palsy-Wheels For Humanity (UCP-WFH) bekerjasama dengan MIT-CITE, University of Pisttburg dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan UGM (PKMK UGM), International Society of Wheelchair Professional dan Puspadi Bali melakukan sebuah penelitian berjudul Wheelchair Users Voice : A Pilot Study.

 Studi  yang dilakukan di Bali ini bertujuan untuk memotret layanan kursi roda yang disediakan lengkap dengan produk kursi roda dengan desain yang tepat dan sesuai kebutuhan pengguna.

Peneliti Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan UGM, Eviana Hapsari Dewi, MPH mengatakan kursi roda adaptif adalah layanan kursi roda yang sesuai dengan delapan langkah layanan kursi roda dari WHO. “Kursi roda ini dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas karena didesain sesuai dengan kebutuhan penggunanya,” jelas Eviana.

Studi ini menjadi penting dalam rekomendasi kebijakan di Bali. Direktur Puspadi Bali, I Nengah Latra mengatakan hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pengambil kebijakan dalam pemenuhan hak alat bantu bagi penyandang disabilitas di Bali.

“Hal ini berkaitan dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pada pasal 12 disebutkan bahwa penyandang disabilitas berhak memperoleh alat bantu kesehatan berdasarkan kebutuhannya,” sebut Latra.

Guna mensosialisasikan dan memasyarakatkan hasil studi ini kepada pembuat kebijakan khususnya di Bali, UCP Roda Untuk Kemanusiaan dan Puspadi Bali menyelenggarakan lokakarya diseminasi pada 12 September 2019 di Annika Linden Center Denpasar.

“Kami berusaha melibatkan seluruh unsur mulai dari pemerintah hingga penyandang disabilitas pada lokakarya ini. Menurut kami, realisasi pemenuhan hak alat bantu di Bali tak akan terwujud tanpa kolaborasi dan partisipasi dari unsur-unsur terkait,” ujar Indana Laazulva selaku Manajer Program UCP Roda untuk Kemanusiaan. *dar

BAGIKAN