Boreh dan Minyak Urut Lestarikan Obat-obatan Zaman Dulu

50

Denpasar (bisnisbali.com)-Produk obat-obatan zaman dulu sudah hampir punah. Untuk pelestarian proses dan aroma, juga pelestarian taksu obat-obat jaman dulu Ketut Sudiantara, mencoba memproduksi boreh Bali dan juga minyak urut.

Boreh dan minyak digunakan untuk terapi sakit asam urat  atau ‘tuju’ kalau orang jaman dulu menyebutnya dan juga untuk terapi bagi penderita rematik, syaraf kejepit dan sebagainya. Cara pemakaiannya juga sangat mudah hanya dibalurkan saja karena membantu penyembuhan dari luar.

Menggunakan resep leluhur jaman dulu dan penggalian lontar- lontar taru Premana. “Keunggulan obat jaman dulu sudah sangat terbukti oleh para leluhur kita. Tapi karena sekarang kebanyakan orang sudah beralih ke sistem pengobatan modern, sehingga kekayaan leluhur itu sekarang hampir punah,” ungkapnya.

Khasiat dan kemampuan membantu dalam proses penyembuhan itu, jauh lebih bagus dibandingkan produk obat modern. Karena ini prosesnya dari jaman dulu masih tradisional dan tanpa ada bahan – bahan kimianya.

“Saya ingin membangkitkan, melestarikan kekayaan leluhur sehingga generasi penerus mengetahui ini yang digunakan oleh leluhur untuk pengobatan sebelum mengenal adanya obat – obat modern,” tukasnya.

Boreh 30 gr dibandrol Rp 20 ribu, sedangkan minyak herbal 100 ml Rp 120 ribu. Namun diakui mengalami kendala karena persaingan dalam pemasaran modern. “Kalau pasar modern, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi seperti lolos BPOM. Proses cukup panjang dan saya baru mengantongi SK Diskes saja,” ungkapnya.

Namun ia tetap optimis karena obat tradisional jaman dulu memiliki taksu, itu yang akan dipertahankan termasuk proses dan aromanya. “Jadi orang yang mencium aroma produk ini, bisa teringat dengan neneknya, leluhurnya. Itu yang membuat banyak orang terkesan,” tukasnya.

Terkait bahan baku, saat ini ia tengah mengumpulkan dari berbagai tempat di Bali. Dan kedepannya mulai memikirkan untuk membudidayakan dan membuat agro wisata, saat ini sudah dalam tahap pembibitan untuk segera dikembangkan. Yang langka itu babakan – babakan Taru, dan masih saya cari ke lereng gunung, itu yang membuat produk harganya mahal.*pur

BAGIKAN