Neraca Perdagangan Bali Surplus 16,18 Juta Dolar AS

15

Denpasar (bisnisbali.com) –Neraca perdagangan Provinsi Bali mengalami surplus 16.176.106 dolar AS pada Juli 2019. Nilai ekspor Pulau Dewata mencapai 44,76 juta dolar AS, lebih besar dari nilai impor yang hanya 28,58 juta dolar AS.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Bali, I Gede Nyoman Subadri, S.E., di Denpasar belum lama ini mengungkapkan, neraca perdagangan Bali ini lebih tinggi dari Juni tahun yang sama yang hanya mengantongi 15.249.492 dolar AS. Sayangnya, jika dibandingkan dengan Juli 2018 yang mencapai surplus 24.382.851 dolar AS, kondisi perdagangan Juli 2019 ini masih lebih rendah.

Menurutnya, surplus perdagangan Juli 2019 terjadi meski terdapat lonjakan impor Bali mencapai 65,02 persen jika dibandingkan Juni 2019. Peningkatan impor secara absolut secara month to month dominan disebabkan oleh naiknya perdagangan dari Tiongkok mencapai 3.201.901 dolar AS, berupa produk barang dari kulit, mesin dan peralatan listrik, dan produk lonceng, arloji, dan bagiannya.

“Dari sepuluh negara asal utama impor Juli 2019, seluruh negara mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Juni 2019. Peningkatan tertinggi tercatat pada impor asal Jepang hingga ratusan persen. Hal sama juga terjadi impor asal Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Tiongkok,” bebernya.

Jelas Subadri, Juli 2019 lalu komoditas impor terbesar Provinsi Bali berupa produk dari kulit mencapai 3.933.524 dolar AS yang tercatat meningkat 115,41 persen dibandingkan Juni 2019. Katanya, dari sepuluh komoditas utama impor, sembilan di antaranya mengalami peningkatan, dengan peningkatan tertinggi hingga ribuan persen tercatat pada komoditas mainan yang dominan naik berasal dari Amerika Serikat berupa komedi putar, ayunan, galeri tembak dan lainnya.

Sementara itu, nilai impor kumulatif periode Januari-Juli 2019 mencapai 148.394.135 dolar AS, naik setinggi 37,75 persen jika dibandingkan dengan periode Januari-Juli 2018 yang tercatat mencapai 107.728.295 dolar AS. Hongkong menjadi negara asal impor terbesar Provinsi Bali yang tercatat 27,04 persen dari total impor. Peningkatan impor tertinggi bahkan hingga ratusan persen dicapai oleh tiga negara asal impor, yakni Belanda 307,77 persen, Singapura 210,55 persen, dan Tiongkok 179,25 persen. *man

BAGIKAN