Harga Anjlok, Petani Pasrah Biarkan Tomat Membusuk di Pohon

37
PASRAH - Petani tomat pasrah menghadapi kondisi harga tomat yang anjlok.

Bangli (bisnisbali.com) –Selain bawang merah, ternyata komoditi hasil pertanian lainnya seperti tomat juga menalami penurunan harga yang sangat drastis. Bahkan Senin (9/8) harga tomat di tingkat petani hanya Rp 1.000  per kilogramnya.

Anjloknya harga tomat ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.  “Anjloknya harga tomat ini sudah terjadi hampir sebulan terakhir, padahal pada saat sebelum hari raya Galungan harga tomat mencapai Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilonya.

Sempat juga di angka Rp5 ribu perkilonya hingga akhirnya usai Galungan berada di angka seribu rupiah,” terang Kadek Witarsa salah seorang petani di Desa Songan, Kintamani Bangli.

Anjloknya harga komoditi tomat ini diakui hampir sama dengan bawang merah, di mana terjadi panen yang dibarengi dengan masuknya komoditi yang sama dari luar Bali. Ini tersebar hampir  di semua pasar yang ada di Bali.

Kadek Witarsa tidak menampik harga tomat yang berfluktuasi ini kerap terjadi utamanya pada saat musim panen yang kali ini bersamaan juga dengan musim panen tomat di luar Bali. Hanya saja sangat disayangkan harganya terlalu rendah hingga membuat para petani pasrah pada hasil pertaniannya kali ini.

“Saya pribadi memilih untuk tidak memetik buah tomat, karena harga terlalu rendah, bahkan tidak jarang kita pakai pakan ternak atau kita biarkan hingga membusuk di pohon dan menjadi pupuk alami. Kalaupun harus kami petik, dengan harga yang sangat rendah sangat tidak memungkinkan bisa menutup biaya oprasional mulai dari bibit hingga pemeliharaan, apalagi kalau memetik dengan jasa tukang petik, akan sangat mustahil bisa tertutupi,” ungkapnya.

Biasanya harga masih bisa ditoleransi atau terbilang normal kalau berada di kisaran Rp5 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut para petani bisa mendapat untung meski tipis setelah dikurangi ongkos pemeliharaan, pembelian pupuk, obat tanaman serta tenaga petik.

Ia berharap kondisi ini bisa kembali normal. Dirinya berharap pemerintah provinsi bisa memberlakukan pembatasan masuknya hasil pertanian dari luar Bali. Hal ini selalu saja terjadi tapi hingga kini belum ada tindakan nyata dari pemeritah untuk melindungi petani lokal.

Kadek Witarsa menambahkan dirinya masih bersyukur karena anjloknya harga tomat di tingkat petani ini bisa sedikit tertutupi dengan komoditi lainnya yang juga sudah mulai panen seperti sayur kol, sawi, dan juga cabai besar.*ita

BAGIKAN