Bali harus Jadi Pionir Pengembangan UMKM

26

Denpasar (bisnisbali.com) –Bali harus bisa menjadi pionir dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terutama dari segi pendistribusian. Saat ini ada 336 ribu UMKM di Bali dengan rasio wirausaha 7,38 persen angka yang tertinggi di Indonesia sedangkan rasio nasional 3,1 persen.

Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Dr. Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., M.M., belum lama ini mengatakan, jika distribusi bagus, maka usaha akan cepat berkembang dan kondisi perekonomian juga akan baik. Hal tersebut juga akan makin memacu pertumbuhan wirausaha di Bali, yang pada akhirnya akan menekan jumlah pengangguran.

Namun tingginya jumlah UMKM, kata Sri Subawa, harus diimbangi dengan kualitas yang lebih baik, jaringan  yang lebih baik dan pemasaran yang lebih baik. “Karena saya lihat pertumbuhan UMKM di Bali sangat bagus. Tapi yang sering kali terjadi hanya follower ikut-ikutan, padahal sesungguhnya ada bidang yang lebih unik yang bisa dikembangkan. Bali itu kan unik, termasuk UMKM-nya harus unik juga,” tuturnya.

Saat ini yang menjadi persoalan adalah ketika seorang entrepreneur menemukan sesuatu yang spesifik, kemudian yang lain ikut-ikutan. “Kelemahan lain yang saya lihat adalah dari sistem marketing yang masih lemah. Dari sisi pemasaran ini, saya rasa masih perlu pendampingan,” katanya.

Di era revolusi industri ini, pemasaran harus berbasiskan teknologi. Jadi pendampingan harus memberikan pengetahuan dan pembelajaran pada UMKM ini yang berbasis teknologi. “Saya yakin mereka mampu, tapi harus mendapatkan pendampingan terlebih dahulu. Untuk itu peran dari usaha besar untuk membantu mereka, sehingga bisa saling melengkapi,” katanya.

Lebih lanjut dipaparkan, produksi sesuatu barang, contoh makanan kalau kelengkapannya ada yang dibuat oleh UMKM lokal itu yang harus diberdayakan. “Jadi UMKM lokal ini yang harus dibangkitkan dengan keterlibatan semua komponen, termasuk usaha besar, dan jangan sampai terjadi upaya memutus rantai karena persaingan,” katanya.

Sementara itu berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM yang diolah dari BPS (2018), jumlah UKM di Indonesia telah mencapai lebih dari 64,19 juta dan memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional sebesar 61,07 persen (Rp8,57 triliun), menyerap tenaga kerja 116,97 juta orang (97 persen), dan ekspor non-migas sebesar Rp293 triliun (14,37 persen). Data tersebut memberikan gambaran bahwa UKM memiliki peran dalam pertumbuhan ekonomi nasional. *pur

BAGIKAN