Mangupura (Bisnis Bali) –
Indonesia merupakan negara yang sangat prospektif terkait pengembangan ekonomi keuangan digital. Prospektif karena dari 260 penduduk di Indonesia, rasio penggunaan handphone (HP) dibandingkan jumlah penduduk sekitar 1,3 kali.
“Penggunaan internet, sosial media, mobile banking kini menjadi prospektif. Itu menunjukkan potensi ekonomi keuangan digital kita bisa mendorong inklusi, UMKM, startup hingga kewirausahaan,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Kuta, Rabu (28/8). 
Dari sisi BI, diakui, bagaimana strategi selaras dengan visi sistem pembayaran yaitu integrasi ekonomi keuangan digital secara end to end, mendorong digital banking, interlink fintech sama digital banking hingga mendorong startup. Baginya dengan inovasi itu semua akan sangat prospektif.
“Di Bali tentu ini sangat prospektif untuk startup maupun tourism,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan untuk industri UMKM saat ini ada kurang lebih 355 UMKM dari 898 UMKM di wilayah BI sudah go digital. Banyak mereka yang menggunakan elektronik payment, instagram maupun lainnya yang memudahkan mereka masuk ke ekonomi keuangan digital.
“Ekonomi keuangan digital khususnya untuk inklusi keuangan akan mendorong ekonomi dan UMKM,” terangnya.
Kendati demikian Perry mengingatkan masyarakat juga harus paham terkait adanya juga risiko-risiko seperti . risiko keamanan siber, data privasi maupun juga risiko yang terkait bagaimana stabilitas sistem keuangan yang juga harus ada mitigasinya.
“Terakhir bagaimana kepentingan nasional itu juga harus dipertimbangkan dalam membangun ekonomi keuangan digital,” ucapnya.
BI memiliki kebijakan atau mempunyai garis kebijakan yaitu semua pelaku asing harus tunduk pada kebijakan-kebijakan sistem pembayaran termasuk QRIS. “Jika mereka ingin menggunakan QR code kita, maka mereka harus tunduk QRIS,” jelasnya.*dik

BAGIKAN