Denpasar (Bisnis Bali) – Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) atau BI 7 DRR jadi 5,50 persen dari posisi 5,75, menurut Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter IB Kade Perdana, jadi angin segar bagi kalangan pelaku usaha di Bali saat ini. Bercermin dari itu pula, kalangan perbankan diharapkan segera menyesuaikan suku bunga (SB) yang dilempar agar searah dengan penurunan BI 7DRR.

“Penurunan BI 7DRR ini merupakan kabar bagus bagi pelaku usaha dan sangat dinanti-nanti. Sebab, kebijakan tersebut akan memberi andil pada penurunan biaya yang ditanggung ke posisi lebih rendah dari sebelumnya sehingga berdampak pada meningkatnya daya saing,” tutur Kade Perdana, Minggu (25/8) kemarin.

Dia sangat mengapresiasi kebijakan terbaru dari BI menyangkut suku bunga ini, meski ia nilai suku bunga acuan tersebut masih cukup tinggi dibandingkan dengan suku bunga IMF. Selain itu, agar lebih bisa dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, maka idealnya suku bunga acuan BI ini berada di level 4 persen.

“Saat ini mungkin BI arahnya akan ke sana, namun itu dilakukan dengan cara perlahan-lahan atau tidak menurunkan suku bunga acuan ini secara drastis. Terpenting, kami sangat apresiasi langkah BI dengan menurunkan suku bunga acuan ini,” ujarnya.

Jelas mantan Dirut Bank Sinar ini, menyikapi penurunan suku bunga acuan BI ini kalangan perbankan juga harus segera mungkin menyesuaikan penurunan suku bunga yang dilempar ke masyarakat. Katanya, perbankan jangan hanya menyikapi penurunan suku bunga acuan ini dengan menurunkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) saja, namun hal sama juga harus dibarengi dengan penurunan suku bunga kredit.

“Selama ini dari beberapa kali kebijakan yang sama, kalangan perbankan justru cenderung mengambil sikap ambil untung dengan menurunkan suku bunga DPK, namun tetap mempertahankan suku bunga kredit dengan sejumlah alasan yang klasik,” ujarnya.

Sebenarnya kalangan perbankan tidak ada alasan untuk tidak segera dalam menurunkan suku bunga mereka. Sebab, setiap perbankan memiliki tim risk management dan tim tersebut bisa setiap saat menggelar rapat dalam menyikapi penurunan suku bunga acuan BI tersebut dan sekaligus mengapresiasi dalam rangka mendorong geliat ekonomi agar menjadi lebih baik.

“Sebab itu, begitu suku bunga acuan BI ini turun, perbankan harus serta merta menurunkan suku bunga mereka. Paling lambat sebulanlah. Untuk itu dan mestinya OJK juga mengambil peran untuk menghimbau penurunan suku bunga di kalangan perbankan ini,” kilahnya.

Tambahnya, selain penurunan suku bunga acuan, guna makin mendorong pertumbuhan ekonomi pada semester II 2019 ini, harapannya BI juga menurunkan suku bunga giro wajib minimum (GWM). Tujuannya, mengefektifkan uang kalangan lembaga keuangan yang tersimpan di BI untuk dimanfaatkan atau disalurkan sebagai pinjaman (kredit) kepada masyarakat, sehingga akan mendorong geliat pertumbuhan ekonomi nantinya. *man

BAGIKAN