Penyelamatan Air Tanah Dukung Pariwisata Berkelanjutan

37
Talkshow Penyelamatan Air Tanah dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan digelar di Bali oleh Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Mangupura (Bisnis Bali) – Sumber daya air, termasuk diantaranya air tanah digunakan dalam berbagai kegiatan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, industri, pertanian, perikanan, jasa, termasuk diantaranya pariwisata. Dalam pengembangan pariwisata diperlukan dukungan air bersih untuk pengelolaan infrastruktur pendukungnya, seperti untuk perhotelan, restoran dan wahana air. Masifnya pengambilan air tanah akan mengakibatkan kondisi air tanah menjadi rawan. Begitu halnya terjadi di Bali, dimana pada beberapa daerah sudah dikategorikan rawan.

Hal tersebut terungkap pada acara Talkshow Air Tanah dengan tema “Penyelamatan Air Tanah dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan” bertempat di Bintang Bali Resort, Kuta. Kegiatan ini diadakan oleh Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ir. Rudy Suhendar, M.Sc mengatakan Bali sangat maju sektor pariwisatanya dan sektor pariwisata lebih berkembang di bagian selatan. Sisi selatan ini merupakan daerah hilir dari sistem hidrologi, baik dari sisi air permukaan (air sungai) maupun dari sisi sistem air tanah, yaitu sebagai daerah lepasan air tanah.

Berdasarkan Permen ESDM No. 2 Tahun 2017 tentang Cekungan Air Tanah (CAT) di Indonesia, di Bali terdapat delapan buah CAT, yakni CAT Denpasar-Tabanan, CAT Singaraja, CAT Amlapura, CAT Negara, CAT Gilimanuk, CAT Nusa Penida, CAT Nusa Dua dan CAT Tejakula. “CAT merupakan daerah dimana terjadi proses pengimbuhan air tanah (recharge area), pengaliran air tanah dan pelepasan air tanah (discharge area). Batas CAT merupakan batas teknis, dan tidak harus berimpit dengan batas daerah administrasi,” sebut Rudy.

Dikatakannya, dilihat dari CAT di Bali yang paling berkembang kondisi pariwisatanya berada pada CAT Denpasar-Tabanan. Untuk mengetahui tingkat kerusakan air tanah pada suatu CAT dilakukan pemetaan zonasi konservasi air tanah. Badan Geologi, Kementerian ESDM telah melakukan pemetaan konservasi air tanah di CAT Denpasar-Tabanan (2011), dan ditemukan adanya zona rawan. Zona rawan merupakan zona yang menunjukkan terjadinya penurunan muka air tanah sebesar 40-60 persen atau terjadinya intrusi air laut akibat pengambilan air tanah, yang ditandai dengan kenaikan nilai daya antar listrik sampai dengan 1.000-10.000 mg/liter. “Untuk CAT Denpasar-Tabanan, zona rawan diindikasikan oleh penurunan muka air tanah (belum ada indikasi intrusi air laut), yaitu di daerah Sumerta Kaja (Denpasar) dan Sading (Badung),” imbuhnya.

Lalu, pada tahun 2014, survei oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali menunjukkan meluasnya zona rawan air tanah, berupa penurunan muka air tanah meliputi Semarapura (Klungkung), Sumerta Kaja (Denpasar), Sading (Badung), Sudimara dan Tabanan, serta terjadinya intrusi air laut di Nusa Dua dan daerah pantai barat (sepanjang Pantai Kuta).

Meluasnya zona rawan air tanah di daerah tersebut disebabkan oleh semakin meningkatnya pengambilan air tanah dalam jumlah yang tidak seimbang bila dibandingkan dengan jumlah pengimbuhan air tanah. Di sisi lain, suplai air bersih dari PDAM belum dapat mencukupi kebutuhan air bersih baik bagi penduduk, maupun bagi sektor pariwisata. Sehingga bagi sektor pariwisata, terjadi ketergantungan pemenuhan air bersih dari air tanah. “Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan air tanah yang telah dilaksanakan,” harap Rudy.

Pengelolaan air tanah dilakukan berdasarkan konsep one basin one management, yaitu pengelolaan air tanah di setiap CAT dengan mengutamakan batas CAT dan bukan mengutamakan batas administrasi daerah. Sehingga dalam pengelolaannya, para pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama dengan baik agar air tanah tetap terjaga kelestariannya.

Talkshow ini diselenggarakan sebagai sarana berbagi pengalaman pengelolaan sumber daya air, terutama air tanah, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata dalam rangka menjaga kelestarian air tanah dan keberlanjutan pendayagunaan air tanah, termasuk pada sektor pariwisata. Acara ini turut dihadiri Kepala Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali, Drs. Ida Bagus Ngurah Arda, M.Si, serta pemerhati kebijakan publik Ir. Agus Pambagio, M.Eng, Mgt., CPN. (*dar)

BAGIKAN