Bali Jadi Pelopor Kompetisi Tandem Flair

47
Sepasang bartender menunjukkan kebolehannya pada Bali Tandem Flair Competition 2019 bertempat di Lxxy, Legian Kuta.

Mangupura (Bisnis Bali) – Himpunan Bartender Indonesia (HBI) Bali kembali menggelar Bali Tandem Flair Competition (BTFC) bertempat di Lxxy, Legian Kuta, Rabu (7/8). Kompetisi yang kedua kalinya ini diikuti sebanyak 10 pasang peserta yang merupakan para bartender talenta muda di Tanah Air.

Koordinator HBI Bali, Bayu Hendra mengungkapkan selama ini kompetisi tandem bartender jarang digelar di Indonesia. HBI Bali termasuk berani mengadakan kompetisi ini sejak tahun 2018 lalu. Penyelenggaraan pertama tersebut dijadikan sebagai “trial in error”, dan pada tahun ini dilaksanakan secara mantap dengan memperebutkan piala bergilir. “Dengan mengangkat tema Semangat Kemerdekaan, BTFC 2019 menghadirkan piala bergilir bagi bartender talenta muda yang ikut berkompetisi kali ini,” ujar Bayu Hendra.

Bali menjadi pelopor penyelenggaraan tandem flair, sekaligus menjadi suatu kebanggaan karena mulai ditiru oleh daerah lain, diantaranya Jakarta. Menurut Bayu Hendra, tandem flair memang berbeda dengan single flair, dimana pada tandem flair sangat dituntut adanya kekompakan tim dalam menyajikan minuman dengan benar dan layak serta rasa yang pas kepada customer. “Pada tandem flair ini masing-masing individual tidak bisa membuat dirinya lebih dominan. Artinya harus bisa mengimbangi partnernya. Dalam dunia hospitality harus ada kerjasama tim. Jika tim tidak bagus atau tidak solid maka hasil yang diraih juga tidak maksimal. Maka melalui kompetisi ini kami ingin mensinkronkan agar tim itu menjadi satu kesatuan untuk meraih pencapaian yang maksimal. Inilah tantangan pada event ini,” imbuhnya.

Sementara Ketua Panitia, Oka Angga menyebutkan 10 tim berpasangan yang adu kebolehan pada BTFC 2019 ini diantaranya berasal dari Bali, Jakarta, Bandung dan Manado. Ada enam nominasi yang diperebutkan, salah satunya adalah The Best Cocktail. Penilaian dilakukan oleh enam juri yang kompeten, diantaranya cocktail judge untuk menilai kemampuan peserta dalam membuat cocktail wajib “Sangria”, yaitu campuran wine, vodka dan juice serta cocktail kreasi sesuai creative ingredients dari peserta. Ada pula dua reduction judges yang berperan untuk melakukan pengurangan nilai jika peserta melakukan kesalahan, serta tiga technical judges yang menilai keserasian gerak, koreo, difficulty (kesulitan) serta variety yaitu keserasian gerak yang tidak monoton. “Semoga melalui ajang kompetisi ini ke depan bisa memberikan hal yang positif bagi para bartender di Indonesia, dan tentunya bisa mengasah kemampuan yang dimiliki untuk bisa menjadi seorang bartender yang profesional,” tutup Oka. (*dar)

BAGIKAN