Biopori Salah Satu Alternatip Pengendalian Kekeringan

70
Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.,M.MA

Denpasar (Bisnis Bali) –
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Bali menjadi salah satu daerah yang berpotensi alami kekeringan meteorologis (iklim). Bercermin dari kondisi tersebut, menurut Rektor Universitas Dwijendra Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.,M.MA, upaya mengendalikan kekeringan agar tak terjadi dalam kondisi yang ekstrim, salah satunya bisa dilakukan melalui pembangunan biopori di sejumlah kawasan.
“Pengendalian kekeringan tidak hanya dilakukan di kawasan hulu tetapi juga bisa di kawasan hilir. Salah satunya melalui pembangunan biopori di beberapa kawasan. Selain itu, pengendalian dan pembatasan eksplorasi air tanah harus juga dilakukan oleh pemerintah melalui regulasi,” tutur Gede Sedana, di Denpasar, Minggu (7/7).
Terangnya, kekeringan selalu menghantui kehidupan warga msyarakat, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Keterbatasan air terjadi selain karena intensitas hujan yang sangat rendah, juga diakibatkan oleh menurunnya debit air di sumber-sumber air. Diantaranya, mata air, sumur dan sungai. Dampaknya, produkrivitas tanaman pertanian akan menurun karena pasokan irigasi yang berkurang, bahkan potensi konflik juga dapat terjadi di antara para pengguna air, seperti petani atau subak, dan penguna lainnya.
Jelas Gede Sedana, selain membangun biopori, sejumlah alternatif atau solusi yang dapat dilakukan adalah menjaga kelestarian hutan (kwasan hulu) yang memiliki fungsi penyimpan air (air hujan). Katanya, kelestarian hutan bisa dilakukan melalui kegiatan penanaman hutan atau reboisasi, mengendalikan alih fungsi hutan, menangkap air hujan melalui check dam, bendungan dan bangunan-bangunan fisik lainnya.
Sambungnya, guna memaksimalkan hasil yang didapat, reboisasi yang dilakukan agar berkelanjutan. Yakni, dimulai dari penentuan calon lahan dan calon pengelola lahan, pemilihan jenis tanaman kayu yang akan ditanam, transplanting, pemeiharaan. Melalui kegitan tersebut, sarannya perlu dimonitor untuk menjamnin tanaman yang ditanam masih hidup secara subur, sehingga jumlah tanaman yang ditanam dengan jumlah tanan yang hidup tidak jauh berbeda.
“Dalam hal ini peranan kelompok petani atau kelompok masyarakat hutan perlu diperkuat kapasitasnya, terutama yang berkenaan dengan aspek orgnisasi, manajemen, teknologi budi daya pertanian, teknis pengendalian erosi, dan aspek lainnya,” tegasnya.
Sementara, pengendalian alih fungsi hutan dapat dilakukan dengan penyuluhan kehutanan kepada warga masyarakat, sosialisasi peraturan perundang-undangan, dan law enforcement. Di sisi lain, penangkapan air hujan sangat perlu dilakukan untuk mencegah aliran air berlebih ke permukaan dan laut, dan untuk menyimpan atau menanmpung air yang akan berguna dalam penanggulangan kekeringan. Beberapa bangunan yang dibuat adalah check dam atau bendungan, bendung, reservoar, cubang dan bentuk-bentuk lainnya.*man

BAGIKAN