Sentuh Rp 7.500 per kg, Peternak Ayam Potong di Tabanan Puyeng

96

Tabanan (Bisnis Bali) –
Sejumlah peternak di Kabupaten Tabanan bingung (puyeng) dengan harga jual ayam potong saat ini. Betapa tidak, harga ayam potong di tingkat peternak sudah menyentuh level Rp 7.500 per kg, sekaligus dinilai merupakan harga terburuk sepanjang sejarah.
“Saat ini kondisi harga ayam potong di tingkat peternak merupakan paling parah yang pernah terjadi selama ini. Sebab, harganya jauh berada di bawah break event point (BEP) yang berada di level Rp 20.500 per kg, sehingga itu membuat peternak bingung saat ini,” tutur salah seorang peternak ayam potong di Desa Tunjuk, Tabanan, I Wayan Sukasana, Kamis (27/6).
Terangnya, tren penurunan harga ayam potong ini terjadi mulai pada awal puasa yang mengalami penurunan secara bertahap hingga akhirnya menyentuh harga Rp 7.500 per kg sejak pertengahan minggu ini. Prediksinya, terpuruknya harga daging ayam ditingkat lokal ini disumbang oleh masuknya produksi ayam dalam bentuk karkas (daging beku) dari luar Bali dalam jumlah besar, sehingga dengan kondisi permintaan pasar di Bali yang stabil, hal tersebut membuat harga menjadi anjlok saat ini.
“Itu kami buktikan dengan sempat melakukan dua kali sidak bersama dinas terkait dalam rangka menyikapi anjloknya harga ayam, dan menemukan bukti masuknya karkas dari luar daerah ke Bali. Namun, saat itu hasil temuan dikembalikan lagi,” ujarnya.
Jelas Sukasana, bila saja tidak diserbu oleh pasokan daging dari Jawa, harga daging ayam di tingkat lokal bisa jadi terkendali saat ini. Sebab, peternak ayam khususnya yang tergabung dalam asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Bali sudah mengkondisikan popolasi ayam yang ada agar seimbang dengan jumlah kebutuhan pasar selama ini.
Akuinya, saat ini dengan murahnya harga jual, banyak peternak ayam potong ini sudah tidak bisa bayar pakan, apa lagi harga pakan sangat mahal saat ini. Di sisi lain, peternak tidak mungkin untuk menggunakan pakan alternatip guna menekan harga, mengingat justru akan mempengaruhi bobot atau berat ayam yang menyebatkan peternak malah tidak bisa menjual ke pasaran.
Harapannya, pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan hendaknya segera bersikap dengan anjloknya harga, terlebih kondisi serupa juga sudah terjadi secara nasional saat ini. Katanya, jangan sampai pemerintah hanya bisa menggelar oprasi pasar atau menetapkan harga eceran tertinggi (HET) daging ayam pada saat harga mahal, namun membiarkan harga ketika terjadi gelojak penurunan.
“Selain itu, guna menyikapi hal serupa terjadi lagi di masa mendatang, pemerintah hendaknya memiliki data yang pasti antara produksi daging di dalam negeri dengan kebutuhan nasional. Itu penting dalam upaya untuk bisa mengendalikan harga daging di pasaran,” kilahnya.
Hal serupa juga diungkapkan peternak lainnya, Wirya. Kata dia, peternak sangat dilemma dengan harga yang terjadi saat ini. Sebab, jika produksi di tahan sambil menunggu harga membaik, maka peternak dihadapkan pada tingginya biaya produksi karena harga pakan yang mahal. Di sisi lain, akuinya jika dilempar ke pasaran, harga yang diterima sangat jatuh saat ini.
“Kami hanya bisa pasrah saja dengan kondisi harga saat ini. Mudah-mudahan harga segera kembali menguat,” tandasnya.*man

BAGIKAN