Sentuh Rp 1.150 per Butir, Penurunan Harga Telur Ayam Ditingkat Peternak Berlanjut  

140

Tabanan (Bisnis Bali) –
Penurunan harga telur ayam pascamomen Idul Fitri (Lebaran) ditingakat peternak terus berlanjut. Itu dicerminkan setelah sempat melonjak pada awal puasa, harga telur ayam ini berbalik arah dengan mengalami menurun pada pertengahan puasa, dan itu berlanjut hingga saat ini dengan menyentuh dikisaran Rp 1.150 per butir. 
 
Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan, Kecamatan Penebel, Tabanan Darma Susila, Minggu (16/6) mengungkapkan, pada momen awal puasa telur ayam ini sempat menginjak dikisaran harga tertinggi. Yakni, mencapai Rp 13.000 per butir untuk di kandang. Akuinya, setelah momen tersebut harga telur ayam berbalik arah dengan mengalami tren penurunan secara bertahap, mulai dari turun Rp 20 per butir, turun lagi Rp 50 per butir, dan hingga akhirnya menginjak level Rp 1.150 per butir sejak seminggu terakhir ini.
“Saat ini rata-rata harga telur ayam di tingkat peternak berada dikisaran Rp 1.150 per butir. Namun, ada juga beberapa peternak yang menjual di bawah kisaran tersebut, tergantung kondisi,” tuturnya.
Prediksinya, kemungkinan kisaran Rp 1.150 per butir ini akan menjadi posisi yang stabil untuk harga telur saat ini. Sebab, seiring dengan kembalinya masyarakat atau konsumen pascamudik (pulang kampung) pada momen Lebaran, hal tersebut sudah kembali berdampak pada penguatan permintaan pasar akan telur ayam saat ini. Jelas Darma, peningkatan permintaan konsumen tersebut sedikit mendongkrak harga telur ayam untuk tidak jatuh saat ini.
“Namun, menguatnya permintaan pasar akan telur ayam ini belum mampu mendongkrak pada lonjakan harga, dan kemungkinan kondisi harga ini akan bertahan lama, terlebih lagi tidak adanya momen hari raya yang berpotensi untuk menguatkan lagi permintaan pasar akan telur ayam dalam waktu dekat,” ujarnya.
Selain itu sambungnya, tidak adanya peluang penguatan harga telur ayam ini juga mengacu pada ayam potong yang mengalami tren penurunan harga sekarang ini. Paparnya,terkait ayam potong, terakhir infonya untuk harga ayam potong ini turun hingga menyentuh Rp 10.000 per kg di kandang, sedangkan Break Even Point (BEP) untuk ayam potong adalah Rp 16. 000 per kg. Bercermin dari kondisi tersebut, perhitungannya untuk harga ayam potong ini sudah sangat anjlok dan kemungkinan akan berdampak juga pada tata niaga telur ayam dipasaran.
Akuinya, itu disebabkan karena penyebab anjloknya harga ayam potong ini akibat indukan baru yang sudah mulai berproduksi, sehingga telur yang ditetaskan menjadi meningkat tajam. Menyikapi itu, ada wacana yang berkembang adalah, ada upaya untuk melakukan pembatasan penetasan telur. Paparnya, telur yang diproduksi oleh indukan akan dibatasi jumlah penetasannya, sehingga produksi DOC dan ayam potong menjadi terkendali lagi.
Sayangnya, dampak dari pembatasan penetasan tersebut berpotensi memicu dilema bagi kalangan peternak ayam petelur. Betapa tidak, pembatasan penetasan memang akan terjadi kestabilan di produksi DOC dan ayam potong. Namun, ancamannya adalah telur yang tidak ditetaskan tersebut akan berpotensi masuk ke pasar, menyaingi produksi ayam petelur.
“Ini akan menjadi dilema bagi peternak ayam petelur nantinya, karena pembatasan penetasan pada ayam pedaging ini akan menjadi pesaing baru nantinya,” keluhnya.
Bercermin dari itu, menurutnya menyikapi anjloknya harga ayam potong ini memang harus dilakukan pembatasan indukan. Cuma harapannya, pembatasan tersebut tetap dilakukan dengan mengacu pada angka statistik yang bisa dipercaya, sehingga menjadikan produksi dipasaran berada dikisaran ideal dan tidak berdampak pada tata niaga telur nantinya.*man

BAGIKAN