Momen Musim Ramai Lebaran Terganjal Tingginya Harga Tiket Pesawat

24

Mangupura (Bisnis Bali)- Musim liburan Lebaran Sarana akomodasi khususnya di Bali tentu mengharapkan tingkat hunian yang tinggi. Ketua IHGMA Bali, Nyoman Astama Kamis (6/6) mengatakan momen musim ramai Lebaran di Bali terganjal tingginya harga tiket pesawat.

Diungkapkannya, kalau dilihat perayaan Lebaran tahun-tahun sebelumnya sarana akomodasi dari hotel, vila,  sampai pondok wisata sudah penuh dipesan 2 atau 3 hari menjelang Lebaran. Namun berbeda dengan periode Lebaran tahun 2019 ini, beberapa hotel, vila dan pondok wisata masih ada yang belum penuh. Seandainya pun penuh, itu baru menjelang satu atau dua hari sebelum periode Lebaran.
Ia menjelaskan kecenderungan perubahan ini disebabkan salah satunya adalah karena mahalnya tiket pesawat domestik. Kendatipun sudah ada langkah-langkah pemerintah dalam upaya pengendalian harga tiket pesawat.

Langkah pemerintah diantaranya melalui penyesuaian harga bahan bakar avtur  oleh Pertamina. Ini termasuk peninjauan batas atas tarif tiket pesawat oleh Kementerian Perhubungan. Upaya-upaya pemerintah tersebut ternyata  belum maksimal untuk menurunkan harga tiket pesawat. Kementerian Perhubungan juga sempat mengakui bahwa harga tiket pesawat untuk periode Lebaran tahun lalu jauh lebih murah dari tahun ini.

Menurutnya, dampak mahalnya harga tiket pesawat tentu juga berakibat pada penurunan jumlah penumpang. Sesuai hukum penawaran dan permintaan, dengan menaikkan harga barang akan berdampak pada penurunan permintaan terhadap barang tersebut. Sesuai laporan BPS sampai kwartal pertama 2019 terjadi penurunan penumpang pesawat sampai 30 persen. Sebagai contoh rute Jakarta-Padang, Harga rata-rata tiket tahun lalu antara Rp700.000-Rp800.000, sedangkan tahun ini antara Rp1.200.000-Rp1.250.000.
Secara bisnis kalau terjadi penurunan jumlah penumpang misalnya dari 1.000 menjadi 700 penumpang, pendapatan maskapai penerbangan malah meningkat. Dengan penumpang 1000 orang dan harga Rp700.000 per orang maka pendapatannya Rp 700.000.000. Sedangkan dengan penumpang berkurang 20 persen menjadi 700 orang dan harga Rp1.200.000 maka pendapatannya menjadi Rp 840.000.000. “Karena itulah maskapai penerbangannya enggan menurunkan harga tiketnya,” tegasnya.

Nyoman Astama menambahkan dampak dari mahalnya harga tiket pesawat domestik, diperkirakan terjadi penurunan 15 persen-20 persen kunjungan wisatawan nusantara atau wisatawan domestik (wisdom) ke Bali. Mereka lebih mencari destinasi alternatif ke luar negeri di mana harga tiket hampir sama atau bahkan lebih murah. *kup/editor rahadi

BAGIKAN