Salah satu pedagang kebutuhan pokok di Pasar Tumpah Banyuasri Singaraja. 

Singaraja (Bisnis Bali) – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah yang jatuh pada 5 Juni 2019, ketersediaan pangan di Buleleng tergolong aman. Begitu pula dengan tingkat inflasi di Kabupaten Buleleng yang tergolong masih berada di bawah tingkat inflasi Nasional.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Buleleng, drh. Nyoman Surya Temaja, MP serta Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng, Desak Putu Rupadi, SE saat ditemui di ruang kerjanya masing-masing belum lama ini.

Surya Temaja menjelaskan, untuk distribusi dan cadangan pangan yang dilihat dari ketersediaan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) masih tergolong aman. Salah satu contoh yaitu ketersediaan beras, dari 78.000 ton beras yang dihasilkan tiap tahunnya di Buleleng, yang dibutuhkan hanya sekitar 74.000 hingga 75.000 ton pertahunnya, sehingga masih tersedia cadangan sebanyak 3000 hingga 4000 ton beras.

Selain beras, sembako lainnya seperti telur, daging sapi atau ayam juga tidak menjadi persoalan. “Untuk kenaikan harga daging dari Rp1000 – Rp1500/kg di Hari Raya ini saya rasa masih dalam batas wajar,” jelasnya.

Dari sisi keamanan, pihak DKP Buleleng telah bekerjasama dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Buleleng serta dinas terkait melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan pangan yang disediakan oleh para pedagang makanan atau hidangan untuk berbuka puasa. Dari hasil pengawasan, masih terdapat bahan-bahan kimia yang tidak direkomendasikan, seperti pada pewarna makanannya. Maka dari itu, tim pengawas merekomendasikan untuk memakai pewarna alami.

“Walaupun pewarna alami terlihat masih kurang menarik, tetapi sudah tentu lebih aman untuk dikonsumsi, dan tidak berbahaya bagi kesehatan,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan tingkat inflasi yang terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, Kabag Desak Putu Rupadi mengatakan Perusahaan Daerah (PD) Pasar dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Buleleng melaksanakan operasi pasar yaitu penyelenggaraan pasar murah dari pasar-pasar besar seperti Pasar Banyuasri, Pasar Anyar hingga ke desa-desa. Pasar murah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pokok yang tentunya berpengaruh terhadap tingkat inflasi.

“Harga kebutuhan pokok sudah stabil, seperti bawang putih yang dulunya sempat mencapai Rp80.000/kg, sekarang sudah mengalami penurunan harga hingga Rp30.000/kg,” katanya.

Lebih lanjut, dirinya menambahkan persentase inflasi terakhir Bulan April 2019 sebesar 0,39%  serta akumulasi pertahunnya terhitung dari Januari hingga April sebesar 0,98%. Jika dilihat dari perbandingan inflasi antara Kota Singaraja (0,38%), Kota Denpasar (0,26%) dan Nasional (0,44%), Buleleng masih tergolong bagus karena masih berada dibawah angka satu persen dan dibawah tingkat inflasi nasional. Faktor yang mempengaruhi inflasi dan deflasi selain harga bahan pokok bisa juga dilihat dari biaya listrik, BBM, serta tiket transportasi. “Kita di daerah pengendaliannya hanya di sandang, pangan, dan pakaian saja,” tutup Desak Putu Rupadi. *ira/editor rahadi

BAGIKAN