Kreator film dan co-founder BIIFF, Emmanuela Shinta (dua dari kanan) bersama beberapa sineas/pengisi acara BIIFF saat memberikan keterangan kepada awak media di Denpasar.

Denpasar (Bisnis Bali) – Sebuah pertemuan sineas indigenous terbesar dan paling beragam dalam sejarah, yakni “Bali International Indigenous Film Festival (BIIFF)” akan dihelat di Bali pada 10 – 12 Mei 2019. Para film makers yang sebagian besar berasal dari masyarakat adat Nusantara dan mancanegara tersebut akan menayangkan karya-karya terbaiknya di ajang tersebut.

Kegiatan tersebut diperkirakan akan menarik lebih dari 900 penonton untuk datang ke dua lokasi penyelenggaraan, yakni Njana Tilem Museum dan Paradiso Theatre di Ubud. BIIFF akan menjadi acara yang kolaboratif, inspiratif dan berpengaruh, di mana para sineas Indonesia akan bertemu dengan sejumlah punggawa industri film internasional pemenang penghargaan yang telah mendedikasikan karirnya untuk mendukung, melindungi dan memberdayakan budaya masyarakat adat melalui sinema.

“Acara ini juga mempertemukan kreator film Taiwan dengan para tokoh penting industri film asal suku asli Quebec, Kanada, serta 13 negara lainnya, dan penonton memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan 25 sutradara pada malam pembukaan festival pada 10 Mei 2019,” ujar Emmanuela Shinta selaku kreator film dan co-founder BIIFF yang juga tokoh muda masyarakat adat Dayak Ma’anyan, Kalimantan Tengah.

Selama tiga hari akan ditayangkan 40 film dari Ekuador, Panama, India, Nagaland, Australia, Kanada, Amerika Serikat, Taiwan, Papua New Guinea, Malaysia dan sejumlah daerah di Indonesia antara lain Kalimantan, Sumba, Papua, Maluku, Bali dan Lombok. Film tersebut terdiri dari dokumenter dan film cerita yang secara khusus berkisah tentang kearifan lokal, kedekatan dengan alam, solusi alternatif, hak atas tanah, kisah-kisah sukses yang inspiratif, pelestarian hutan, dan penggunaan teknologi untuk mendukung kepentingan masyarakat adat. “Tema tahun ini, yakni Stories that Matter sangatlah mengena. Kami, masyarakat adat di negara ini, dapat menggunakan film sebagai media untuk mengenalkan dan menyuarakan kisah-kisah masyarakat adat di seluruh Indonesia. BIIFF ini berupaya untuk mendidik dan memberdayakan budaya masyarakat adat di seluruh dunia melalui film,” imbuhnya.

Ajang kali ini juga diikuti pembuat film termuda yang berasal dari suku Dayak Iban, bernama Kynan (14), yang akan mempersembahkan karyanya berlatarbelakang Sungai Utik, sebuah pemukiman di Kalimantan Barat. Kynan mengangkat kehidupan sehari-hari dan menawarkan pesan-pesan mendalam dari suku tersebut, yang hidup dengan hukum adat tradisional. *dar/editor rahadi

 

BAGIKAN