Bawang Putih Mahal, Petani di Tabanan tak Nikmati Untung

50
Lahan budi daya bawang putih di Desa Babahan

Tabanan (Bisnis Bali) –
Lonjakan harga bawang putih di pasaran yang sampai menyentuh Rp 45 ribu per kg, ternyata tak memberi dampak yang menggembirakan pada sejumlah petani bawang putih di Kabupaten Tabanan saat ini. Tahun ini pengembangan bawang putih di daerah lumbung pangan ini diusahakan di tiga kecamatan melalui program bantuan hortikultura dari pemerintah pusat.
Perbekel Desa Babahan, Kecamatan Penebel Tabanan, I Made Sukapariana., SE, Kamis (9/5) mengungkapkan, Desa Babahan merupakan salah satu sentra dari budi daya bawang putih lokal selama ini. Imbuhnya, dikaitkan dengan kondisi lonjakan harga bawang putih, sayangnya petani di Desa Babahan tidak bisa mendapat untung dari lonjakan tersebut. Betapa tidak, kini sebagaian besar petani tidak memiliki stok produksi, setelah pascapanen yang terjadi pada September 2018 lalu.
“Petani bawang putih di sini panen pada September lalu, sedangkan lonjakan harga baru terjadi beberapa minggu terakhir, sehingga bisa dibilang petani tidak menikmati untung dari lonjakan harga tersebut,” tuturnya.
Jelas Sukapriana, apa bila lonjakan harga ini bertepatan dengan musim panen, kemungkinan besar hal itu baru bisa dinikmati petani bawang putih di Desa Babahan, terlebih lagi varietas dikambangkan oleh petani di Desa Babahan merupakan bawang putih lokal yang memiliki nilai jual lebih mahal dibandingkan dengan bawah putih biasa (bawang putih impor). Hitung-hitungannya, sebelum kenaikan harga, apa bila dipasaran bawang putih jenis biasa ini laku dikisaran Rp 20 ribuan per kg, maka untuk harga bawang putih lokal ini bisa laku mencapai Rp 35 ribu per kg, bahkan jika kualitasnya bagus bisa terjual hingga Rp 60 ribu per kg.
“Kini jika harga bawang putih biasa ini naik mencapai Rp 45 ribu per kg, maka apa bila petani memiliki stok tentu untuk harga bawang putih varietas lokal akan lebih mahal lagi atau di atas harga bawang putih biasa,” ujarnya.
Sambungnya, mahalnya harga bawang putih varietas lokal ini karena jumlah produksi masih terbatas selama ini. Selain itu, pihaknya membeli bawang putih lokal melalui BUMDes yang nantinya diolah menjadi Black Garlic dengan harga mahal ini untuk menggairahkan atau memotivasi petani agar mau menaman kembali bawang putih varietas lokal tersebut.
Akuinya, saat ini untuk pengembangan bawang putih lokal di Desa Babahan tidak banyak atau sekitar 5 hektar yang merupakan pengembangan secara swadaya. Sebab itu pula, pihaknya terus mendorong petani untuk melakukan peningkatan luasan tanam dan produksi, salah satunya melalui bantuan program hortikultura dari pemerintah pusat yang rencananya dialokasikan pada tahun ini.

I Made Sukapariana menunjukan produk Black Garlic

“Tahun ini musim tanam untuk bawang putih varietas lokal ini dimulai awal Juni hingga Juli, dan untuk tahun ini persiapan jelang musim tanam ini sudah mulai dilakukan oleh petani. Tinggal kini menunggu bantuan atau pasokan bibit dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan,” tandasnya.
Sementara itu, di tempat terpisah Kepala Bidang Peningkatan Produksi dan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, I Wayan Suandra mengungkapkan, tahun ini pengembangan bawang putih di Kabupaten Tabanan ada di tiga kecamatan dengan total luasan mencapai 235 hektar. Yakni, ada di Kecamatan Penebel yang sekaligus merupakan sentra produksi terbesar, Kecamatan Baturiti, dan ada di Kecamatan Pupuan.
“Jumlah pengembangan tanaman putih bantuan dari pemerintah pusat ini mengalami peningkatan dari tahun lalu. Sebab, pada 2018 pengembangannya hanya dilakukan di Kecamatan Baturiti dengan luasan 50 hektar,” paparnya.
Di sisi lain akuinya, saat ini untuk produksi bawang putih di Kabupaten Tabanan memang tidak mengembirakan. Sebab, musim tanam bawang putih yang terjadi pada November –Desember tahun lalu, karena intensitas curah hujan yang terlalu tinggi, membuat produksi atau perkembangan budi daya bawang putih menjadi tidak maksimal.*man

BAGIKAN