Mangupura (Bisnis Bali) – Melestarikan sanggul Bali (Pusung tagel) dan etika berbusana adat Bali menjadi perhatian serius anggota komisi IV DPRD Kabupaten Badung, Putu Yunita Oktarini, SE. Ia menggandeng  Dr. Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, MM., Pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK cara menggunakan pusung tagel dan membagikan sanggul, serta pengetahuan tentang etika berbusana adat yang benar sesuai dengan Pergub 79 tahun 2018, beberapa waktu lalu di Kedonganan dan Kelan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

“Ini salah satu bentuk kerja nyata, kontribusi  riil yang kita lakukan terutama untuk pelestarian budaya dan juga menekankan pada titik pemberdayaan perempuan. Saya menggandeng LKP Agung karena Ibu Agung expert dibidang ini,” tutur Yunita, saat ditemui di rumah dewan.

Program pembagian sanggul Bali tersebut untuk tahun ini sebanyak 800  yang diberikan kepada ibu-ibu PKK di desa adat Kedonganan dan Kelan. Program tersebut masih akan berlanjut untuk tahun ini, sekitar 150-200 sanggul.

“Ini salah satu bentuk bantuan riil yaitu pengadaan pakaian melalui hibah Bupati Badung. Ini bentuk kerja riil kita sehingga ibu-ibu bisa ngayah tanpa bingung mencari sanggul dan ini juga salah satu bentuk kontribusi dalam pelestarian budaya,” ucap satu dari 8 Srikandi yang lolos ke DPRD Badung Pileg 2019.  Apalagi kalau pas ada upacara keagamaan ibu-ibu biasanya pasti antri di salon untuk memasang sanggul.

“Untuk mengurangi antrian inilah maka saya bekerja sama dengan LKP Agung melaksanakan pelatihan sanggul dan etika berbusana adat Bali sehingga ibu-ibu bisa memakai sanggul sendiri dirumah dengan praktis dan mudah. Makanya kami berikan bantuan berupa sanggul jadi yaitu pusung tagel,” katanya.

Makanya Yunita  menggandeng LKP Agung untuk sekalian memberikan pelatihan kepada ibu-ibu cara memakai sanggul sendiri di rumah. Program tersebut dikatakan  tidak hanya sekali dilakukan, namun direncanakan berkelanjutan. “Jadi kami fokuskan bagaimana berbusana adat yang baik dan benar, serta cara menggunakan sanggul atau pusung tagel yang merupakan lambang kedewasaan perempuan Bali. Kalau kemarin baru di kecamatan Kuta saja di kedonganan dan kelan, jadi ke depannya kami berharap bisa lebih luas lagi bila perlu ke seluruh Badung,” tandasnya.

Karena untuk perempuan Hindu Bali setiap ada odalan, setiap ada hari raya selalu menggunakan pusung tagel. Apalagi tradisi mepeed masih sangat kental dilaksanakan di kabupaten Badung, sehingga program ini sangat tepat dilakukan untuk pemberdayaan perempuan.

Untuk itu pihaknya akan  terus bersinergi dengan LKP Agung, karena melihat sosok ibu Agung yang sangat tangguh dan luar biasa sekali patut menjadi inspirasi bagi perempuan Bali.  “Ibu Agung saya lihat lebih banyak bergerak di bidang sosial, jadi tidak hanya money oriented tapi lebih ke sosial. Sosok yang berupaya memberdayakan perempuan, dengan memberikan pelatihan dan  kursus kepada khususnya kaum wanita, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan,” tukasnya.

Sekarang banyak sekali kaum perempuan yang menjadi penata rias atau make up artis yang tidak hanya sekedar dilakukan sebagai side job, tapi sebagai pekerjaan utama. Yang pelopor utamanya salah satunya adalah Bu Agung. “Kalau di Bali Ibu Agung itu seperti Martha Tilaar nya Bali, atau mustika ratu nya Bali. Menjadi salah satu tokoh perempuan yang sangat dikagumi di Bali, saya angkat topi untuk beliau,” pungkas Politisi PDIP yang lolos ke DPRD Badung dalam Pileg 2019 ini. *adv/editor rahadi

BAGIKAN