Tabanan (Bisnis Bali) –  Geliat sektor properti awal 2019 dengan mulai ramainya pembangunan rumah menengah bawah, jadi bagian komitmen pengembang untuk meningkatkan layanan bagi masyarakat.

Khususnya kalangan menengah bawah yang menyasar kawasan Tabanan untuk mencari rumah tempat tinggal maupun untuk investasi. Demikian Owner Kharisma Properti, Bagio Utomo, Rabu (30/1).

Dikatakan, Tabanan merupakan kawasan potensial untuk investasi properti. Hal tersebut sudah dipahami konsumen sehingga sejumlah proyek yang baru dibangun, sudah ada yang merespon dengan bayar perskot. ” Sebagai pemasok tentu jadi makin semangat untuk meningkatkan kualitas produk perumahan khususnya menyasar kalangan milenial,” ujarnya.

Dia memandang segmen milenial memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki hidup dan memiliki ketertarikan besar untuk investasi. Khususnya di bidang properti, karena kebutuhan akan rumah merupakan keharusan, juga dari sisi prospek investasi harga rumah dari waktu ke waktu akan makin mahal. Jadi jika tak berusaha membeli sekarang ke depan akan makin ketinggalan. Itu karena harga dasar lahan yang makin mahal merupakan indikator utama bagi pengembang menaikkan harga rumah. Belum lagi ongkos tukang, material bangunan, perizinan, dan lainnya yang memerlukan biaya tinggi sehingga takkan ada harga rumah makin murah ke depan. Jadi kalau bisa membeli sekarang ke depan pasti untung.

Data Bank Indonesia, hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali triwulan II 2018 menyebutkan, setelah mengalami stagnansi selama setahun terakhir, sektor properti residensial (baik pasar primer maupun sekunder) di Bali menunjukkan indikasi pemulihan.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Azka Subhan A. menjelaskan, indeks harga properti residensial primer (IHPR) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar 185,44, lebih tinggi dibanding triwulan lalu yang sebesar 185,23. Berdasarkan tipe rumah, peningkatan terutama terjadi pada rumah tipe kecil. Sedangkan tipe rumah menengah dan besar masih belum menunjukkan peningkatan.

Indikasi akselerasi juga terjadi pada pasar properti residensial sekunder. Pertumbuhan harga rumah sekunder di wilayah Denpasar dan sekitarnya mengalami kenaikan dari rata-rata 0,28 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya, menjadi 0,74 persen (yoy) pada triwulan II 2018. Harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2018 diperkirakan akan kembali menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan tipe rumah, perkiraan peningkatan secara tahunan maupun triwulanan terutama didorong pada tipe kecil dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,04 persen (yoy) atau 3,94 persen (qtq). Diikuti oleh tipe menengah sebesar 0,01 persen (yoy) atau 1,25 persen (qtq) dan tipe besar 0,01 persen (yoy) atau 0,69 persen (qtq).

Optimisme responden SHPR Primer terhadap perkiraan peningkatan tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi Bali secara keseluruhan, serta implementasi relaksasi kebijakan LTV oleh Bank Indonesia. Pulihnya sektor properti residensial juga tercermin pada peningkatan penyaluran kredit perbankan untuk kepemilikan rumah tinggal (Kredit Pemilikan Rumah), apartemen dan ruko/rukan pada 2 bulan terakhir.

Kredit KPR pada periode Mei dan Juni 2018 masing-masing tumbuh sebesar 6,12 persen (yoy) dan 6,64 persen (yoy). Secara nominal posisi penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 9,70 miliar pada Mei 2018, dan sebesar Rp 9,75 miliar pada Juni 2018.

Dari sisi suku bunga, penurunan dan rendahnya suku bunga acuan BI 7-days Repo Rate sampai dengan awal Mei 2018 diikuti oleh tren penurunan suku bunga KPR. Pada Mei 2017, rata-rata tertimbang suku bunga KPR tercatat sebesar 11,7 persen untuk rumah tipe kecil (sampai dengan tipe 21) dan 11,05 persen untuk rumah tipe besar (diatas tipe 70).

Penurunan ini terus berlanjut hingga rata-rata tertimbang suku bunga KPR per Juni 2018 menjadi sebesar 10,8 persen untuk rumah tipe kecil dan 10,4 persen untuk rumah tipe besar. Di samping itu, rasio NPL KPR apartemen dan ruko/rukan terjaga pada kisaran sebesar 2,64 persen hingga Juni 2018.

Kondisi ini, dibarengi dengan kebijakan pelonggaran kebijakan LTV/FTV yang berlaku pada Agustus 2018 telah menstimulasi pertumbuhan KPR yang mulai menunjukkan tendensi peningkatan. Dari data tersebut Kata Bagio Utomo, kiranya di 2019 seiring dengan perkiraan membaiknya kondisi perekonomian Bali secara keseluruhan, sektor properti Bali bisa membaik kendati tahun ini ada helatan politik pilpres pileg yang menurut sejumlah kalangan properti tak berpengaruh signifikan terhadap sektor padat modal dan karya ini. 2019 tentu ada harapan dan tantangan yang dihadapi pengembang. Dengan keyakinan dan fokus membidik pasar menengah bawah, maka peluang untuk sukses tahun ini niscaya tercapai. (gun)

BAGIKAN