BERI KETERANGAN - Kepala Surveyor Indonesia cabang Surabaya memberi keterangan saat membuka pelatihan di Kuta, Sabtu (26/1).

Mangupura (Bisnis Bali) – Pemerintah telah menggaungkan untuj meningkatkan ekspor. Untuk itu dibutuhkan lahirnya eksportir khususnya dari UMKM. Untuk meningkatkan kualitas produk ekspor dan memenuhi persyaratan dari sejumlah negara, yakni food safety sertificate, Surveyor Indonesia (SI) menggelar pelatihan Safety Food, Hygiene & HACCP produk makanan dan minuman kemasan untuk industri kecil menengah (IKM) Provinsi Bali.

 

“Kami telah membentuk partnership dan sinergi dengan UMKM di Bali untuk melahirkan eksportir baru,” jelas Negari selaku Kepala  Surveyor Indonesia Cabang Surabaya yang membawahi Jatim, Bali, NTB, NTT.

Upaya itu, tambah Negari, dilakukan dengan melakukan pelatihan untuk meningkatkan pengendalian mutu. “Pelatihan ini gratis untuk IKM dan UMKM di Bali. Kami menyediakan ruang mutu agar pelaku UKM bisa menerapkan manajemen mutu. Kami juga sudah bekerja sama dengan Saraswanti Indo Genetech,” tambah Negari.

Untuk mengatasi permasalahan permodalan, SI juga menyiapkan program PKBL yakni program kemitraan dalam menyediakan modal untuk ekspansi produk UKM. “Selaku BUMN, kami menjadi mitra dan harus hadir bermitra dengan UKM untuk bertumbuh bersama, khususnya dalam meningkatkan jumlah ekspor kita,” terang Negari.

Sebagai BUMN, SI berdiri sejak 1991 dengan tugas utama verifikasi barang impor. “Kami adalah lembaga infeksi, sedangkan untuk sertifikasi akan dilakukan PT Saraswanti Indo Genetech yang memiliki laboratorium untuk melakukan pengujian mutu produk,” ujar Negari.

Sementara itu, perwakilan IKM dan UMKM di Bali, Dede Sucahya Jaya mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Teknologi di zaman ini, menurutnya telah membantu UMKM memasarkan produknya. “Itu terlihat dari pasar e commerce,” ujar Dede.

Menurut Aryo dari Saraswanti Indo Genetech (SIG), pihaknya telah memiliki laboratorium yang telah dipergunakan sejumlah instansi untuk sertifikasi produk. “Lab kami merupakan yang pertama di Indonesia untuk menguji GMO dan produk transgenik, yakni produk yang direkayasa secara genetika,” terang Aryo.

Di pihak lain, keamanan pangan akan selalu ditanyakan negara tujuan ekspor. Semakin bagus keamanan pangannya nilai produk tersebut akan semakin tinggi.

Sementara itu Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) merupakan pendekatan ilmiah untuk mengelola bahaya keamanan pangan untuk menghasilkan pangan yang aman. (rah)

BAGIKAN