Denpasar (Bisnis Bali) – Pemberlakuan Pergub 99/2018 terkait pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali, akan makin meningkatkan sinergi sektor pertanian dan pariwisata.

Dewan Pembina DPD Asita Bali, Bagus Sudibya, Rabu (9/1) mengatakan, peran koperasi pertanian dan koperasi pariwisata membantu transaksi penyerapan produk pertanian untuk pemenuhan kebutuhan sektor pariwisata.

Diungkapkannya, melalui koperasi pertanian dan koperasi hotel bisa mempertemukan produk seller pelaku pertanian dan buyer pelaku pariwisata di Bali.

Sektor pariwisata tentunya membutuhkan bahan pertanian. Akibat keterbatasan lahan pertanian tidak mungkin semua kebutuhan bahan pertanian untuk sektor pariwisata mampu dipenuhi pertanian lokal.

Ia menjelaskan, melihat keterbatasan tersebut perlu dilakukan pemetaan sentra pertanian di Bali meliputi wilayah Bangli, Tabanan dan Buleleng dan lainnya. Sektor pariwisata di Kabupaten Badung bisa memanfaatkan produk pertanian di Kabupaten Bangli, Tabanan dan Buleleng.

Dewan Pembina GIPI Bali ini melihat terjadi transaksi penghasil produk pertanian dan pemakai produk pertanian seperti hotel, restoran, supermarket , pemasok dan konsumen pembeli langsung. “Ini merupakan bagian pemberlakuan Pergub 99/2018,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, setelah dilakukan pemetaan potensi pengembangan produk pertanian dan potensi penyerapan pasar. Ini bisa dihitung secara jelas dan bertukar informasi antar badan pusat statistik. “Dengan pemetaan ini bisa ditemukan supply dan demand produk pertanian yang dibutuhkan sektor pariwisata Bali,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah harus mengurangi peran tengkulak dan selanjutnya mengangkat peran koperasi dan petani. Ini memudahkan poduk pertanian lokal diserap hotel dan restoran melalui perantara koperasi hotel.

Bagus Sudibya menambahkan, produk pertanian lokal diharapkan tidak dijual dalam bentuk barang mentah melainkan dalam bentuk produk yang memiliki nilai tambah. (kup)

BAGIKAN