RI perlu banyak Cetak Wirausaha

19

Amlapura (Bisnis Bali) – Indonesia memerlukan lebih banyak wirausaha. Karena itu, pendidikan kewirausahaan atau vokasional harus lebih banyak dilakukan dari pusat sampai ke daerah.

Hal itu disampaikan Kasubdit Sarana dan Prasarana Ditjen Dikmas dan PAUD Kemendikdas, Purwanto, Senin (7/1) lalu di Karangasem. Saat pembukaan program pendidikan kecakapan kerja (PKK) perhotelan, Purwanto mengatakan, wirausaha atau pengusaha masih banyak diperlukan, guna mampu terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, dengan kian banyak tumbuh wirausaha, lapangan kerja lebih terbuka dan pengangguran bisa dikurangi jumlahnya.  Saat ini, pengangguran banyak dari kalangan lulusan SMA/SMK.

Di Indoensia, tambah Purwanto, jumlah wirausaha masih kalah jauh bahkan di antaranya negara tetangga. Jumlah wirausaha di Indonesia baru berkisar 1,6 persen dari jumlah penduduk, sementara Malaysia sudah 5 persen, Singapura 17 persen dan Thailand 4 persen. Diakuinya, terkadang meski sumber daya manusia kita sudah dididik dan dilatih, ada juga yang belum diterima di pasar kerja di dalam dan luar negeri. Keadaan itu perlu diintrospeksi, dan ketika ditelaah ternyata faktor attitude (tingkah laku atau perilaku) sangat menentukan. ‘’Karena itu, kejujuran, disiplin dan etos kerja sangat penting ditanamkan kepada anak didik dalam mencetak SDM,’’ katanya.

Dalam mencetak SDM terdidik dan terlatih, melalui berbagai jenis kursus saat ini di Indonesia memang sudah ada lebih dari 18 ribu lembaga kursus. Namun dari jumlah itu, yang terakreditasi baru sekitar 7.000. Dari jumlah yang terakreditasi itu, yang terakreditasi dengan nilai A hanya 99 buah, yang B 143, sementara yang C dan D masing-masing 3.313 dan 3.400 buah. ‘’Lembaga pendidikan dan jumlah wirausaha kita masih kalah dengan di negara lain. Memang kita memiliki atau mengeluarkan izin untuk 79 jenis lembaga kursus dan pelatihan,’’ katanya.

Dengan membuka lembaga kursus dan pelatihan lebih banyak, guna memberikan peluang bagi lebih dari 7 juta masyarakat kita yang masih kurang beruntung karena berada di bawah garis kemiskinan. Mereka yang kurang beruntung diharapkan masuk ke jalur pendidikan nonformal, mengikuti kursus. Tujuannya dengan biaya murah, mampu lebih cepat terserap ke pasar kerja.

Tiap tahun, tambahnya, lembaga pendidikan formal juga menghasilkan tenaga kerja baru. Di lain pihak, Direktur Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata Pansophia Prof. Dr. I Made Yudana, M.Pd., yang menyelenggarakan PKK Perhotelan bagi 100 pemuda di Karangasem itu menyampaikan pihaknya berjuang ke pusat untuk mendapatkan bantuan anggaran dari pusat guna bisa menggelar PKK itu. Tahun anggaran 2018 disetujui bantuan anggaran dari pusat dan baru Januari ini, bisa dilaksanakan PKK itu. Dikatakan, ketika ditawari mengikuti PKK itu,  banyak pemuda yang tertarik dan merespons, seperti dari Desa Tianyar, dari kawasan Tulamben, Amed dan dari lulusan SMK 1 Kubu. ‘’Kalangan perhotelan di Karangasem juga responsnya bagus untuk nantinya menyerap peserta PKK. Lagi pula  Bupati Karangasem juga merespons positif dan nantinya lulusan PKK  dibantu untuk disalurkan di kalangan industri pariwisata di Karangasem,’’ tandas Yudana. (bud)

BAGIKAN