Denpasar (Bisnis Bali) – Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 99 tahun 2018 terkait penguatan produk lokal yang salah satunya mewajibkan pasar modern (swalayan) untuk menyerap produk pertanian lokal paling sedikit 60 persen, diakui tidak menjadi masalah. Namun seiring dengan diberlakukannya peraturan tersebut pihak swalayan berharap agar dari sisi kualitas dan kontinuitas terus dijaga.

Hal tersebut diungkapkan oleh Manajer Operasional Tiara Dewata di Denpasar, R. Novie Setio Utomo, saat ditemui, Selasa (8/1) kemarin. Dikatakannya, selama ini pihaknya telah menyerap produk pertanian terutama buah hingga 70 persen. Demikian juga produk pertanian lainnya. “Mengambil pasokan buah dari petani lokal selama ini sudah kami lakukan, dan kami rasa itu tidak menjadi masalah. Hanya pasokan buah lokal terbentur akan musim yang mengganggu kualitas produksi juga keberlangsungan  (kontinuitas),” ujarnya.

Berbagai jenis buah lokal dikatakannya selama ini sudah disediakan, termasuk jenis buah langka sekalipun. Seperti jenis buah juwet dan sebagainya. “Apa pun jenis buah lokal yang sedang musim kami sediakan di sini. Kami juga harapkan agar suplayer tidak terfokus dengan satu jenis buah, melainkan bisa memenuhi pasokan dengan buah lain, saat buah yang biasanya tidak tersedia,” ungkapnya.

Novie mengatakan, tidak ada syarat berlebih yang diharuskan bagi suplayer oleh pihaknya. Hanya diharapkan petani atau suplayer bisa menjaga kualitas produk, sehingga bisa bersaing dengan produk lainnya. Menurutnya, saat ini minat konsumen lebih banyak kepada kualitas, bukan hanya harga.

Disinggung soal persaingan dengan buah impor, Novie mengatakan, tidak menjadi masalah jika kualitas buah lokal bisa mengikuti. Seperti halnya saat musim jeruk Kintamani, rasa dan kualitas yang ditawarkan sangat bagus dan mampu menyaingi jeruk impor. “Maka dari itu, kami sering turun ke lapangan dan mewanti-wanti petani agar memanen buahnya pada waktu yang tepat, sehingga rasa dan kualitas dari buah itu memberikan yang terbaik,” terangnya.

Masalah harga, Novie mengatakan, pihaknya juga menerapkan harga sesuai dengan pasaran bergantung pada supllay dan demand. Margin yang diterapkannya tidak berubah, saat harga tinggi harga jualnya juga tinggi, demikian saat musim dimana harga dari petani rendah, harga yang dijual juga murah. (wid)

BAGIKAN