Kimono dan Yukata Endek Target Jadi Tren 2019

46

Denpasar (Bisnis Bali) – Di pengujung tahun 2018 sejumlah desainer, meluncurkan tren terbaru untuk 2019. Salah satu desain yang cukup unik dari bahan baku endek adalah Kimono dan Yukata Endek.

Jro Puspa, pemilik Bali Puspa Bordir & Tekstil menuturkan 2019 pihaknya membuat desain yang berbeda dengan mengangkat tema “Puspaning Utari Surya Saking Timur”. Desainnya tersebut sempat dipamerkan dalam ajang Denpasar Fashion Festival penutup 2018.

“Ide ini awalnya muncul ketika saya melihat peluang yang baik, Maret 2018 saya berangkat ke Milan, dari sekian banyak yang pameran tidak ada yang buat kimono. Dari situ akhirnya saya ada ide membuat kimono dan yukata dari bahan kain endek,” papar Wakil Ketua Umum Kadin Bali, Bidang Potensi Daerah Berbasis Budaya tersebut di Renon, Denpasar, Selasa (8/1).

Ia berharap kimono dan Yukata ini bisa menjadi tren pada 2019. Meski respon saat ini belum nampak, namun ia optimis dengan branding dan sounding produk ini akan menjadi tren dan mampu menembus pasar ekspor.

“Kimono dan yukata ini, saya buat sesuai dengan pakemnya. Hanya bahan bakunya dari endek dan tenun ikat lainnya yang banyak di Indonesia karena kualitas tenun ikat kita sangat bagus,” tukasnya. Apalagi dengan tren fashion dunia 2019 masih ke warna nude, warna tanah dan warna alam, sehingga bahan baku tenun ikat sangat cocok digunakan.

Meski demikian, dengan kondisi perekonomian yang masih belum stabil, memang harus pandai melihat peluang. “Kami, para pelaku usaha berharap kondisi perekonomian 2019 ini akan membaik sehingga kemampuan konsumen untuk berbelanja akan meningkat,” tukasnya.

Ia berharap dukungan pemerintah terhadap UKM yang ada di Bali dengan melakukan promosi besar – besaran baik di tingkat lokal, Nasional dan internasional. Karena hampir 5 tahun terakhir, promosi dari Bali itu hilang. Meski ajang IMF  yang lalu disinyalir menjadi ajang promosi besar-besaran, namun belum kelihatan dampaknya.

“Mungkin bagi segelintir orang, segelintir UMKM saja sudah merasakan hasil dari IMF, tapi secara keseluruhan belum. Meski sempat ada sejumlah meeting poin tapi masih sebatas mempelajari saja, belum ada buyer potensi,” pungkasnya. (pur)

BAGIKAN