Tahun Ini, PLN Targetkan 80 Ribu Sambungan

21

Denpasar (Bisnis Bali) – Seiring dengan laju pertambahan penduduk dan bertambahnya pembentukan keluarga baru, disertai dengan pertumbuhan perekonomian masyarakat,  PLN Unit Induk Distribusi (UID)  Bali menargetkan 70.000 hingga 80.000 pemasangan baru pada 2019. Dari 80.000 pemasangan, 27.000 di antaranya ditargetkan kepada keluarga yang selama ini menumpang aliran listrik di keluarga lainnya.

General Manager PLN UID Bali,  I Nyoman Suwarjoni Astawa, di sela-sela acara pemberian penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kepada PLN UID Bali yang telah berhasil melistriki seluruh rumah tangga di Bali, Senin (7/1) kemarin mengatakan, setelah 100 persen rumah tangga teraliri listrik di Bali, tahun ini (2019) PLN memiliki target tertentu terhadap penyambungan baru.  Hal ini dikarenakan,  ke depannya akan ada lagi pertambahan rumah tangga baru.

Di samping itu, sebagian rumah tangga yang saat ini masih menumpang di aliran keluarga lainnya juga akan diarahkan untuk memiliki listrik sendiri.  Dikatakannya,  penyambungan listrik bagi KK baru ini akan memberikan kenyamanan dan keamanan tersendiri.  “Masyarakat akan lebih bebas menggunakan listrik dan dari segi biaya juga lebih hemat,” ujarnya.

Dikatakannya,  saat ini di Bali ada sekitar 1,4 juta pelanggan listrik dengan konsumsi di atas rata-rata konsumsi secara nasional. Atas pemberian penghargaan MURI ini merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai yang bisa memberikan penerangan bgi masyarakat hingga ke pelosok.

Terkait 100 persen masyarakat Bali yang telah teraliri listrik, Astawa mengatakan, pencapaian tersebut atas kerja sama dengan Universitas Udayana yang sudah melakukan survai dari tahun 2017. Atas survai yang dilakukan didapatkan pemetaan, lokasi di mana, siapa masyarakat yang memang benar-benar belum menikmati listrik.

Terhadap masyarakat yang memang sulit untuk dilakukan penyambungan secara konvensoional dikarenakan akses cukup jauh dari jaringan, PLN memberikan bantuan solar panel mini untuk penerangan di wilayah tersebut. “Saya kira ini sangat efisien. Masyarakat hanya mengeluarkan maksimal Rp20.000 per bulan untuk penerangan, dibandingkan harus membeli minyak tanah untuk lampu templek yang menghabiskan Rp40.000 hingga Rp60.000 per bulan,” imbuhnya. (wid)

BAGIKAN