Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI yang menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2019. Ini menjadi atensi semua pelaku pariwisata mulai dari Dinas Pariwisata, PHRI hingga masyarakat. Apa prediksi yang harus dilakukan?


SEBAGAI salah satu pusat destinasi pariwisata Indonesia, Bali telah memiliki sejumlah kelengkapan dari kawasan wisata, gedung konferensi internasional, museum, maupun budaya dan adat-istiadat masyarakat. Bali tidak hanya menjadi tempat wisata secara fisik, namun juga menjadi wisata spiritual.

Hal itu diungkapkan salah seorang pengamat pariwisata I Gede Parma, S.T., Par., M.Par., Senin siang (7/1) kemarin.

Ia menuturkan, pariwisata budaya adalah salah satu daya tarik Bali selama ini. Tahun ini pariwisata di Bali khususnya dari wisata budayanya diprediksi makin menggeliat,  pariwisata merupakan sektor basis ekonomi Bali yang bertumpu para daya tarik seni budaya Bali. Bali ditarget 8-9 juta kunjungan wisatawan per tahunnya.

Sebagai penyedia wisata destinasi wisata,  pariwisata Bali diharapkan mampu memiliki wisata berciri khas. Dengan potensi yang dimiliki, seluruh stakeholder, pilar-pilar pariwisata juga elemen adat dan budaya tentu harus berperan bagaimana merespons setiap  wisatawan dan memberikan edukasi pola berwisata di Bali.

Fenomena yang terjadi selama ini apakah akan tetap bertahan dengan posisi sebagai destinasi yang menjual budaya dan alamnya atau justru ikut dengan tren pasar seperti sekarang ini yakni shopping tourism. “Kalau semua mengikuti tren pasar pariwisata salah satu contoh wisata belanja apa bedanya dengan wisata di negara lain jadi bagaimana kita memiliki kekhasan. Salah satu di antaranya wisata budayanya ini.

Gede Parma menambahkan, Bali harus punya relung pasar sendiri, meskipun di suatu sisi digenjot untuk bisa mengkontribusi jumlah kunjungan wisman cukup besar. Terlepas dari itu bagaimana mengedukasi pasar bukan sebagai pengikut bukan sebagai destinasi yang dipenuhi dengan beton-beton bangunan namun bagaimana bahwa Bali punya daya tarik tersendiri dengan adat, budaya dan alamnya.

Pihaknya menambahkan, dalam skala besar pariwisata Bali jangan hanya mengejar pertumbuhan namun juga pemerataan. Harus dipertimbangkan juga aksesibilitas dengan pembangunan infrastruktur serta amenitas seperti kelengkapan listrik, air, dan kebutuhan lainnya termasuk pelayanan yang baik juga sumber daya manusia (SDM). Diketahui dewasa ini meskipun fasilitas wisata memadai, apabila kualitas SDM kurang mendukung tentu akan berdampak pada kemasan wisata itu sendiri.

Gede Parma yang juga Ketua KNPI Buleleng menuturkan, beragam prospek pariwisata mulai dari wisata atraksi berbasis alam, buatan, dan budayanya cukup mumpuni untuk menunjang kunjungan wisatawan ke Bali, dan wisatawan khususnya mancanegara datang ke Indonesia 60 persennya mencari budaya. Pembentukan karakter SDM dalam sektor pariwisata juga harus menjadi salah satu penunjang pariwisata. Dengan demikian, pemerataan pariwisata pun dapat diwujudkan dan mampu mendatangkan repeater guest sehingga mampu memberikan multiplayer effect. (ira)

BAGIKAN