Bibit Plum Cangkok lebih Cepat Berbuah

79

BIBIT plum masih tergolong langka di Bali, sehingga harganya cukup tinggi yaitu Rp 250 ribu untuk bibit yang masih kecil. Meski demikian, permintaan terus berdatangan dari para penghobi tanaman buah.

Tanaman plum menurut Ir. Yayuk Suryati, penjual tanaman di Sanur, Denpasar bisa dikembangkan secara generatif (biji) dan vegetatif. Meski demikian, ia menyarankan memilih mengembangkan tanaman plum secara vegetatif dengan metode cangkok.

“Pembibitan dengan metode cangkok, lebih baik karena plum bisa lebih cepat berbuah. Enam bulan tanaman sudah bisa berbuah, kalau generatif dua tahun baru belajar berbuah,” paparnya.

Dikatakan, perbanyakan tanaman plum masih relatif agak susah sehingga bibit masih langka. “Dengan metode cangkok ternyata perlu waktu lebih dari 3 bulan untuk keluar akarnya. Kalaupun keluar akar jumlahnya juga tidak begitu banyak, sehingga tingkat kematian setelah turun cangkok juga relatif besar,” tukasnya. Dari kurang lebih 15 cangkokan yang sudah turun, cuma hidup sekitar 5 batang.

Kondisi tersebut berdampak pada harga yang cukup tinggi. “Permintaan bibit tinggi, sedangkan pasokan terbatas. Makanya harganya tinggi,” ucapan.

Metode cangkok sudah diketahui banyak orang, dengan cangkok dalam waktu tiga bulan tunas sudah keluar dan bisa dipindah ke lahan. Selain metode cangkok, banyak orang mencoba cara stek akar menjadi salah satu alternatif cara perbanyakan tanaman plum. Tetapi cara ini hanya menghasilkan bibit baru dengan jumlah yang terbatas. (pur)

BAGIKAN