Denpasar (Bisnis Bali) – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menyebutkan dari 10 komoditi utama yang diekspor dari Bali selama November 2018,  produk perhiasan atau permata dan pakaian jadi bukan rajutan masing masing sebesar 11,6 persen, dan 16,1 persen.  Ini mesti menguatkan motivasi produsen Bali meningkatkan daya saing menghadapi persaingan global yang makin sengit.

Salah seorang produsen perhiasan emas dan perak, asal Temuku, Bangli, Made Sudiartha,  menyampaikan, komoditi perhiasan Bali tak hanya eksis di pasar dalam negeri namun juga ekspor. Peluang dan tantangan ini mau tak mau harus diambil khususnya bagi para produsen ekspor untuk meningkatkan perolehan devisa bagi negara.

Biacara kualitas perhiasan Bali memang ditentukan sejumlah indikator strategis. Diantaranya, bahan baku yang berkualitas, kreativitas pemotif dalam inovasi desain dan motif, adopsi peralatan produksi yang modern, manajemen bisnis, kemasan, dan pemasaran. Selama ini motif tradisional Bali yang sudah dikolaborasi dengan unsur modern terbukti mampu menggugah minat beli pasar baik dalam maupun luar negeri.

Dalam konteks menjaga keunikan komoditi unggulan Bali ini, melestarikan produksi secara manual tetap penting. Jika ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dampaknya akan sangat positif terhadap penyerapan tenaga kerjayang berperan sebagai pemotif.

Di bagian lain, bermain di pasar ekspor, konsekuensinya adalah permintaan pasar dalam jumlah besar dengan deadline yang singkat. Jika tak ada transpormasi teknologi ke teknologi cetak modern dikhawatirkan akan terjadi kesenjangan atau produsen akan sulit memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Dia mengaku optimis, inovasi perhiasan Bali, dengan munculnya berbagai jenis perhiasan emas imitasi, dan lainnya akan memberi penyegaran pada pasar. “Hal ini juga diharapkan meningkatkan harga jualnya ke depan, karena bahan baku yang digunakan juga terjamin kualitasnya,” ungkapnya.

Produk perhiasan imitasi yang juga laku keras di pasar ekspor memanfaatkan material pilihan hasil kolaborasi antara tembaga, perak, kuningan, yang disepuh emas, sehingga alan lebih awet dan warnanya tak mudah luntur.

Sementara itu pebisnis tekstil produk tekstil (TPT) Bali, Agus Dauh Ariyawan menyampaikan, bisnis busana yang dinamis tak kalah memerlukan inovasi berkelanjutan sehingga mampu memenuhi kebutuhan  pasar. Bali memiliki berbagai jenis TPT yang dapat diandalkan di pasar ekspor.

Menyimak data BPS, Amerika Serikat ( AS) menduduki posisi pertama pangsa pasar ekspor yang menyerap produk dari Pulau Dewata dengan nilai mencapai hampir 150 juta dolar AS selama periode Januari-November 2018. AS menguasai porsi 27,7 persen dari total nilai ekspor Bali yang mencapai 539,3 juta dolar. Nilai ekspor ke AS itu meningkat 7,9 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2017 yang mencapai 138,8 juta dolar AS.

Selain negeri Paman Sam, Australia, dan Cina menduduki posisi kedua dan ketiga pangsa pasar ekspor Bali masing-masing menguasai komposisi 8,10 persen dan 7,69 persen. Selama Januari-November 2018, BPS mencatat total nilai ekspor dari Bali mencapai 539,3 juta dolar AS atau naik 10,2 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2017.

Meski AS menduduki posisi teratas untuk nilai volume ekspor, namun pertumbuhan ekspor produk Bali yang paling besar adalah Cina mencapai 54 persen disusul Thailand (42 persen), Hongkong (41,9) dan Taiwan (31 persen).

Khusus November 2018, nilai ekspor dari Bali tercatat mencapai 61,3 juta dolar AS atau naik 13,7 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 33,9 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2017.  (gun)

BAGIKAN