Pemenuhan Modal, Bank Lokal Lirik Terbitkan Obligasi

16

Denpasar (Bisnis Bali) – Bank lokal Bali dalam memenuhi permodalan strateginya tidak harus go public. Untuk memperkuat rasio permodalan upaya yang dilakukan adalah menerbitkan obligasi.

“Untuk go public kita belum, karena pemda masih bisa penuhi modal,” kata Direktur Operasional BPD Bali IB Gede Setia Yasa di Renon.

Ia mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dipilih bank untuk penguatan modal, salah satunya menambah modal dengan menerbitkan obligasi. Sementara terkait rencana IPO belum menjadi rencana Bank BPD Bali pada 2019, karena rasio permodalan bank lokal Bali ini masih dalam posisi yang cukup baik. Dalam rencana bisnis bank (RBB) pada 2019 bank belum merencanakan untuk go public, sementara bank membutuhkan modal Rp 150 miliar per tahun. Namun, pemegang saham yang dominan dipegang oleh pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota telah berkomitmen menambah permodalan bank.

Bank masih punya bamper 3 persen, sedangkan posisi capital aset ratio (CAR) masih 22 persen.

“Pertumbuhan pada 2019 jika tidak ada setoran permodalan yang tidak sampai Rp 100 miliar, serendah rendahnya kita bisa tumbuh 18 persen – 20 persen sesuai rencana kerja, dengan pertumbuhan kredit 9 persen,” ujarnya.

Diakui untuk melakukan go public, saat ini masih dalam pembicaraan proses transformasi dari kepemilikan saham. Sementara pemda masih berkomitmen memberikan permodalan.

“Walaupun kami belum melakukan hal itu sebelumnya pada 2010 – 2011, sudah pernah melakukan pembicaraan bagaimana proses transformasi dari kepemilikan saham. Ke depan mungkin tergantung kebijakan pemerintah daerah karena pada waktu itu belum diberikan,” paparnya.

Menurutnya kendati bank sudah berbentuk perusahaan terbuka, namun sifatnya masih tertutup, karena pemda dikatakan masih komitmen menambah modal. Karena modal merupakan “bumper” dari pertumbuhan. Dengan pertumbuhan bisnis 10 persen per tahun, Bank BPD Bali membutuhkan modal Rp 150 miliar – Rp 170 miliar per tahun. Kredit yang disalurkan Rp 16,5 triliun, pertumbuhan asetnya pada bulan Juni 2018 mencapai Rp 23,15 triliun. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada semester I/2018 yaitu Rp 18,7 triliun dan komposisi DPK terbesar adalah dari tabungan.

Corporate Secretary Divisi Bank BJB Indra Maulana mengatakan, Bank BJB merupakan salah satu dari dua bank milik daerah yang sudah go public yaitu 25 persen saham dimiliki oleh publik. Sementara 75 persen saham bank BJB dipegang pemerintah daerah (pemda). Setiap triwulan Bank BJB juga wajib mempublikasikan kinerja keuangannya ke pemda dan media. Dengan dipublikasikan di media harapannya bisa dibaca pemegang saham, investor dan calon investor. (dik)

BAGIKAN