Kuningan dan Pileg, jadi Stimulus Akselerasi Kinerja Ekonomi Bali

18

Mangupura (Bisnis Bali) – Kinerja ekonomi Bali pada triwulan I 2019 dari sisi penawaran menunjukkan pelaksanaan perayaan Imlek berpotensi mendorong meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara seperti pada periode 2017 dan peningkatan charter flight langsung dari Tiongkok. Sejalan dengan itu masuknya periode panen untuk komoditas tanaman bahan makanan pada triwulan I 2019 diperkirakan akan menjadi faktor pendorong akselerasi kinerja ekonomi Bali pada periode tersebut.

“Sementara adanya perayaan hari besar keagamaan berupa Kuningan dan pelaksanaan pemilihan umum legislatif (pileg) dan presiden (pilpres) yang diawali oleh masa persiapan dan kampanye pada triwulan 1 2019 berpotensi menjadi faktor stimulus akselerasi kinerja ekonomi Bali pada triwulan I 2019,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Causa Iman Karana, di Renon, Jumat (4/1) kemarin.

Tidak hanya itu, potensi pembuka direct flight baru ke beberapa negara asal wisatawan mancanegara (wisman) berpotensi mendorong akselerasi lapangan usaha transportasi pada triwulan I 2019. Akselerasi kinerja lapangan usaha transportasi juga didorong oleh telah selesainya pengerjaan beberapa proyek konstruksi di Bandara Ngurah Rai sehingga akan meningkatkan kapasitas operasional bandara dan diperkirakan akan berdampak pada peningkatan akses kunjungan wisatawan ke Bali.

Cik biasa disapa menerangkan, berdasarkan hasil survai dan liaison meningkatkan kinerja ekspor jasa diprakirakan tetap kuat didorong upaya promosi dan penjualan melalui online booking, sales call dan program diskon. Kondisi tersebut akan mendorong pertumbuhan lapangan usaha admamin pada 2019. Keikutsertaan pelaku usaha pada pameran internasional dan pengembangan pasar alternatif ke India, Timur Tengah dan Rusia juga merupakan faktor pendorong pertumbuhan kinerja lapangan usaha ini.

“Peningkatan kinerja ekonomi Bali juga didukung oleh terus meningkatnya jumlah kunjungan wisman dari Rusia dengan kualitas spending yang lebih baik sejalan dengan perekonomian Rusia yang terus menunjukkan peningkatan kinerja,” tegasnya.

Meskipun berpotensi meningkat diakui terdapat risiko dan tantangan yang berpotensi menahan kinerja ekonomi Bali pada 2019. Meningkatnya persaingan pasar ekspor luar negeri untuk produk dari Bali khususnya produk olahan kayu, pakaian jadi, furniture, handicraft dan perhiasan terutama dari kualitas dan harga berisiko menahan kinerja ekonomi Bali.

Sejalan dengan itu kebijakan proteksionisme dagang dan perang dagang yang ditempuh pemerintah Amerika Serikat berisiko menahan kinerja ekspor barang luar negeri Bali. Di sisi lain terus berkembangnya destinasi wisata dunia menjadikan makin meningkatnya kompetisi dalam menarik pengunjung sehingga risiko menahan kinerja Bali pada 2019.

Potensi kenaikan tarif tenaga listrik maupun BBM bersubsidi sepanjang 2019, berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. “Sementara itu berlanjutnya kenaikan policy rate Bank Indonesia dari 5,75 persen menjadi 6 persen berpotensi diikuti oleh kenaikan tingkat suku bunga perbankan termasuk suku bunga kredit yang berpotensi menjadi faktor penahan kinerja investasi,” ucap Cik. (dik)

BAGIKAN