IG Ngurah Putu, Jadikan Bahan Evaluasi  

MENJADI pengusaha, modalnya tidak serta merta duit. Namun tahan banting juga salah satu syarat yang mesti dimiliki. Untung dan rugi bahkan bangkrut adalah "sahabat"  pengusaha.

MENJADI pengusaha, modalnya tidak serta merta duit. Namun tahan banting juga salah satu syarat yang mesti dimiliki. Untung dan rugi bahkan bangkrut adalah “sahabat”  pengusaha. Nah, dalam kondisi merugi mestinya mereka banyak berevaluasi, menata usaha agar tidak terjatuh pada lubang yang sama.

Itu pula yang dialami pengusaha batu tabas, IG Ngurah Putu. Pemilik usaha Batu Selem Umanyar, Karangasem itu menyampaikan, dia dari dulu bekerja sebagai tukang batu tabas. Apalagi di kampungnya di Umanyar, merupakan penghasil batu tabas atau batu hitam.

“Saya menjadi tukang batu sejak tahun 2001, sampai sekarang. Di usaha batu juga terkadang ada penghasilan, terkadang pekerjaan sepi. Seperti saat ini, karena ada wabah corona, semuanya terdampak. Tukang batu seperti saya juga sepi pesanan,” tandas pria yang tinggal dekat kaki Gunung Agung itu.

Dikatakan, sepi orderan ini sama dampaknya ketika Gunung Agung bergejolak September 2017. Dan pascaerupsi Gunung Agung, sempat order kerajinan batu tabas membaik. Namun, saat ini sepi lagi. “Saat ini, stok batu banyak. Isian per truk juga bagus atau penuh.  Harga batu hitam atau batu tabas per truk mencapai Rp 13 juta,” katanya.

Selain berbisnis di bidang batu tabas, Ngurah Putu juga sempat beternak ayam petelur. Ayam petelurnya sampai ribuan. Namun salah perhitungan karena kurangnya pengalaman, saat berternak dia rugi besar. “Saya juga beternak ayam potong. Ada sekitar 1.500 ekor. untungnya tipis,” jelasnya. Dia menambahkan, khusus soal ternak ayam, Ngurah Putu mengaku seperti sistem ngadas. Bibitnya dari pengusaha ayam dan pakan ternak dipasok pengusaha pula. “Sedangkan, kandang ayam, air dan listrik, serta tenaga kerja, saya yang membiayai,’’ ucap dia. *bud

BAGIKAN