I Wayan Nonok Aryasa, Jajaki Penjualan Antarpulau

PANDEMI Covid-19 membuat penjualan sekaligus harga kopi produksi petani di Kabupaten Tabanan kian melorot. 

PANDEMI Covid-19 membuat penjualan sekaligus harga kopi produksi petani di Kabupaten Tabanan kian melorot.  Itu tercermin dari penjualan kopi robusta melalui Perusahaan Daerah Dharma Santika (PDDS) Tabanan yang turun hingga menyentuh level 100 kilogram  per bulan.

“Pandemi Covid-19 telah membuat penjualan kopi menurun tajam dibanding  sebelumnya yang bisa tembus 1 ton per sebulan,” tutur Plt. Direktur Utama PDDS I Wayan Nonok Aryasa. Penurunan penjualan membuat BUMDes sebagai penghasil kopi di Kabupaten Tabanan menjadi ketar-ketir. Selama ini PDDS Tabanan mengambil kopi robusta di 10 BUMDes.

Guna mendongkrak penjualan kopi di tengah pandemi, PDDS menjajaki penjualan antarpulau atau keluar daerah.  “Kami sudah bekerja sama dengan komunitas pencinta kopi di Yogyakarta. Jika kerja sama berlangsung lancar, komunitas ini siap memesan kopi robusta 2 ton sebulan untuk dijual ke sejumlah coffee shop,” ujarnya.

Ia mengharapkan kerja sama dengan komunitas yang memiliki 100 coffee shop di Yogyakarta tersebut bisa membantu petani kopi Tabanan menghadapi musim panen mendatang.  Proses kerja sama ini belum final, namun sampel kopi yang dikenalkan ke komunitas tersebut sudah mendapat respons bagus. “Kami tinggal menunggu komunitas itu datang ke Tabanan untuk mengecek ketersediaan stok sesuai permintaan mereka yang mencapai 2 ton per bulan,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, pihaknya akan segera mengumpulkan BUMDes penghasil kopi di Kabupaten Tabanan untuk mengetahui kesiapan stok sekaligus kontinuitas kopi robusta. *man

BAGIKAN