I Wayan Dikep, Pemasaran Undis  Macet

PETANI lahan kering di Kubu, Karangasem, tak luput terdampak wabah Covid-19.

PETANI lahan kering di Kubu, Karangasem, tak luput terdampak wabah Covid-19. Hasil pertanian unggulan mereka, undis yang dikenal sangat enak dan dulu laku keras, pada musim panen ini malah tidak ada yang membeli. Petani undis pun mengeluh.

Anggota DPRD Karangasem asal Banjar Batudawa Kelod, Kubu, Karangasem, I Wayan Dikep, mengaku kasihan dengan nasib petani.  Dikep mengatakan, petani di lahan kering di Kubu, memang umumnya hanya bisa bercocok tanam sekali setahun, menunggu musim hujan tiba. Namun, saat hujan turun pascakemarau itu, beragam tanaman ditanam, di antaranya, jagung, kacang tanah, kacang merah, ketela pohon dan undis.

Kacang undis, termasuk yang paling belakang musim panennya. Sebelumnya, jagung, disusul kacang merah, dan ketela pohon. Saat panen kacang tanah dua bulan lalu, petani di desanya, sangat sumringah. Ini lantaran kacang tanah yang kualitasnya sangat bagus dan disukai pabrik kacang garing di Pulau Jawa, semua hasil panen kacang tanah diserap atau terjual laris. Per kg, kacang tanah panen laku Rp 6.500 per kg, dulu paling tinggi Rp 5.000 per kg. Namun saat bulan ini panen undis, yang masih setengah muda atau enak untuk sayur, ternyata tidak laku.

Penyebabnya, pasar sepi, bahkan, di pasar tradisional ada ketentuan, tidak boleh orang luar desa, berjualan di pasar  itu. Dulu, saat musim undis, hasil pertanian itu, dipasarkan ke Denpasar, Buleleng, Klungkung dan ke pasar  tradisional lain di kabupaten lainnya.  ‘’Mungkin penyebab undis tidak laku, pemasaran macet,  karena lalu lintas perdagangan juga seret, di samping daya beli masyarakat menurun drastis. Dulu undis per kg laku Rp 9.000 sampai Rp 13.000 per kg, kini tidak ada yang membeli. Pengepul yang dulu membeli undis petani, kini tak mau membeli undis. Semoga wabah Covid -19 ini cepat berlalu, sehingga kita semua pihak bangkit lagi, bisa bekerja apa saja secara normal ,’’ ujar Dikep yang mantan pekerja pariwisata di Denpasar itu.

Petani khususnya di Desa Adat Batudawa dan umumnya di Kubu, saat panen ketela pohon, dibuat gaplek. Gaplek itu terkadang untuk persediaan makanan pokok keluarga setahun, terutama dari kalangan keluarga petani kurang mampu.  Undis dan kacang tanah, merupakan hasil pertanian unggulan petani di Desa Batudawa. Ratusan hektar lahan kering, saat mulai turun hujan pascakemarau,  ditanami jagung, kacang tanah, kacang merah, terkadang juga kacang hijau, undis dan ketela pohon. ‘’Adik dan kakak saya sendiri bertani, mengerjakan lahan pertanian kering sekitar tiga hektar. Saya tidak bisa mengerjakan lahan.  Sekitar 70 persen warga di Desa Batudawa  petani, 25 persen lainnya bekerja di sektor pariwisata dan sektor lainnya,’’ paparnya. *bud

BAGIKAN