I Putu Tangkas Kawidana, Potensi Wisata Spiritual

SEKTOR pariwisata nyaris berada pada titik nol. Kondisi ini sepertinya menjadi renungan dan evaluasi banyak pihak.

SEKTOR pariwisata nyaris berada pada titik nol. Kondisi ini sepertinya menjadi renungan dan evaluasi banyak pihak. Pun pertanyaan banyak muncul di kalangan masyarakat, apakah selama ini ada yang salah dalam pengembangan pariwisata di Bali, khususnya di Karangasem? Layakah dikembangkan pariwisata spiritual di samping pariwisata budaya dan panorama keindahan alam Bali?

Belum lama ini, salah seorang instruktur yoga untuk kalangan wisatawan di Karangasem, I Putu Tangkas Kawidana, S.P., mengatakan di kabupaten ujung timur pulau Bali ini, memang potensial untuk pengembangan pariwisata spiritual.

‘’Pengembangan pariwisata spiritual di Karangasem memang cukup potensial,” katanya. Pria yang lama belajar di ashram itu menyampaikan, Karangasem sudah dianugerahi energi spiritual yang tinggi. Karena itulah, para leluhur masyarakat Bali, pada zaman dahulu sudah mengetahui dan banyak dibangun tempat suci di Karangasem. Ke depan, jika wabah Covid-19 sudah berlalu,  sektor pariwisata mesti dibangkitkan lagi di Karangasem. Sementara, dalam rangka pengembangan pariwisata, kalau serius mengembangkan pariwisata spiritual sebagai salah satu branding bagi Karangasem, mesti didukung oleh pengelola objek wisata, pramuwisata atau stakeholders lainnya. Polanya adalah, mereka yang terlibat mesti mengerti spiritual, di mana dalam pengelolaannya mengutamakan kesucian, perdamaian dan harmoni. ‘’Dari pengalaman saya bergaul dengan wisatawan yang tertarik dengan dunia spiritual, misalnya ikut yoga, wisatawan biasanya memerlukan penjelasan atau bimbingan khusus untuk memuaskan dahaga mereka akan hal-hal yang bersifat spiritual,” tuturnya kembali.

Sebagaimana pengalamannya mengajar yoga, lanjut Tangkas Kawidana, sebagian besar wisatawan ingin mengetahui aspek-aspek yoga yang lebih dari sekadar olah raga atau senamnya. “Kalau cuma gerakan senamnya, mereka sudah melakukan di negaranya. Tetapi merasakan damai, harmoni antara sesama manusia dengan alam semesta dan Tuhan, para wisatawan itu baru merasakannya di Bali. Khususnya di Karangasem,” lanjut dia.

Pihaknya berharap, pramuwisata spiritual di Karangasem mempunyai pedoman yang detail dan mudah dipahami. Sehingga mudah diterapkan di tingkat masyarakat, dan juga praktisi pariwisata di Karangasem. ‘’Takutnya, kalau salah kelola atau terlalu business oriented justru bisa bikin leteh atau menodai tempat-tempat yang disucikan masyarakat Bali,” tandasnya.  *bud

BAGIKAN