I Putu Sukantya, Buat Pupuk dengan Teknik  ’’Tebe” Komposter

PUPUK menjadi sarana penting dalam sektor pertanian. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 saat banyak kalangan kembali melirik usaha tani dengan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai upaya menopang ketahanan pangan.

PUPUK menjadi sarana penting dalam sektor pertanian. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 saat banyak kalangan kembali melirik usaha tani dengan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai upaya menopang ketahanan pangan. Guna mendapatkan hasil optimal dengan biaya murah, kini cukup bermodalkan ember yang dimodifikasi sudah bisa membuat pupuk organik cair atau padat memanfaatkan bahan baku sampah rumah tangga.

I Putu Sukantya dari bidang organik di Bali Rare Paduraksa (BRP) berhasil membuat pupuk bermodalkan ember yang tekniknya disebut sebagai tebe komposter.  Teknik tebe komposter ini mengadopsi kebiasaan masyarakat Bali tempo dulu yang memfungsikan tebe sebagai wadah untuk mengurai sampah organik dari dapur atau pekarangan menjadi kompos. Selain itu, tebe juga biasanya digunakan untuk menanam sayuran dan memelihara hewan ternak seperti babi. “Dulu biasanya sisa-sisa makanan akan dibawa ke tebe sebagai pakan ternak, sehingga tidak ada sampah yang dibuang keluar dari pekarangan rumah,” tuturnya.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan penduduk, keberadaan tebe di Bali mulai hilang. Sampai akhirnya konsep “tebe ke paon, paon ke tebe” mulai ditinggalkan. Ia kini mengembalikan konsep itu melalui teknik tebe komposter.

Mekanisme untuk menghasilkan pupuk melalui teknik tebe komposter adalah dengan mencah sampah organik menjadi lebih kecil agar lebih mudah terurai. Selanjutnya sampah tersebut ditampung dalam ember recycle ukuran 20 liter yang sudah dimodifikasi atau dipasang kran dan pembatas, serta saringan dalam ember untuk memisahkan pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC). Tuangkan 20 ml bio aktivator ke dalam satu liter air ditambah satu sendok makan gula pasir. “Semprotkan bio activator secara bertahap. Jangan lupa menutup kembali komposter setiap kali selesai menyemprotkan bio tersebut. Nantinya, tebe komposter akan menghasilkan POC, POP dan maggot dengan masa panen,” ujarnya.

Setelah 14 hari, POC sudah siap dipanen, sedangkan POP bisa dipanen setelah tiga bulan dan dapat menjadi campuran dengan media tanam. Teknik ini memberikan bonus berupa maggot yang berfungsi untuk mengurai sampah. Maggot juga bisa digunakan sebagai pakan ternak seperti ikan dan unggas karena kandungan proteinnya tinggi.

Ditambahkannya, selama ini sampah rumah tangga hampir 60 persennya adalah organik. Jika itu diolah, volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi jauh berkurang. *man

BAGIKAN