I Nyoman Rembun Kuatkan Persatuan dan Keharmonisan untuk Bangun LPD Iseh

I Nyoman Rembun (2 dari kanan)  bersama pengurus LPD Desa Adat Iseh (wid)
Amlapura (bisnisbali.com) – LPD Desa Adat Iseh yang mulai bangkit sejak 2016 lau tidak terlepas dari semangat prajuru adat, bendesa adat serta dukungan masyarakat setempat. Dengan persatuan dan keharmonisan yang begitu kuat menjadi modal awal kebangkitan LPD yang berada di wilayah Kecamatan Sidemen, Karangasem.
Kepala LPD Desa Adat Iseh I Nyoman Rembun saat ditemui, Minggu (22/12) kemarin, menuturkan, ide pembangkitan kembali LPD Desa Adat Iseh didasari atas melihat perkembangan LPD di desa adat lain. Pihaknya melihat masih ada kesempatan untuk kembali membuat LPD Desa Adat Iseh berkembang kembali yang nantinya bisa menjadi tumpuan perekonomian bagi masyarakat. “Kami semua banyak belajar dari pengalaman melihat desa lain yang bisa dikatakan sudah jauh meninggalkan kami. Dari situ kami berpikir Kami masih ada kesempatan, tak ada yang tak mungkin ketika persatuan dan keharmonisan terjalin kuat,” jelas pria kelahiran 10 Oktober 1977 ini.
Dirinya yang mengaku baru pulang dari rantuan dan memutuskan memilih bertani dikampung halaman karena keadaan orang tua sakit, mengatakan bersemangat ketika tercetusnya ide membangkitkan kembali LPD Desa Adat Iseh. Menurutnya keberadaan LPD menjadi bagian yang sangat penting untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di desa adat kedepan.
Pada awal dibangkitkan,  tentu bukan perkara mudah, Nyoman Rembun mengaku harus menghadapi kredit macet sebesar Rp30 juta serta tabungan masyarakat Rp26 juta. Namun semua permasalahan tersebut sudah dapat diatasi. “Saat itu kami juga dibantu oleh LP-LPD (Lembaga Pemberdayaan LPD)  sebesar Rp30 juta,” ujarnya. 
 
Saat ini LPD yang didukung oleh kurang lebih 400 krama (masyarakat adat)  ini telah mampu memiliki aset senilai Rp3,6 miliar. Berbagai manfaat yang diberikan kepada masyarakat pun sudah mampu dilakukan. Seperti santunan kematian, dukungan dunia pendidikan hingga dalam waktu dekat LPD Desa Adat Iseh mengupayakan pembuatan baju untuk masyarakat yang menjadi nasabah. Pembuatan baju ini menghabiskan dana sekitar Rp14 juta. “Untuk pembuatan baju ini kami priyoritaskan nasabah, yang kami di pengurus sendiri belum memiliki seragam. Bagi kami yang nomor satu adalah masyarakat, kami priyoritas nomor dua,” imbuhnya.  *wid
BAGIKAN