I Gede Karang, Bahasa dan Pariwisata

PELESTARIAN alam nan lestari atau ajegnya seni dan kebudayaan Bali menjadi penting bagi Bali.

PELESTARIAN alam nan lestari atau ajegnya seni dan kebudayaan Bali menjadi penting bagi Bali. Sebab, kelestarian alam merupakan aset tak ternilai harganya bagi Bali yang banyak mengandalkan lingkungan, serta seni dan kebudayaan Bali sebagai daya tarik. Sementara, unsur kebudayaan itu, salah satunya Bahasa Bali, menjadi bahasa daerah yang terbilang lengkap dengan memiliki huruf, yang disebut Aksara Bali.

Bendesa Adat Subagan, Karangasem, I Gede Karang, mengakui ada tantangan dalam  melestarikan dan mengajegkan Bahasa Bali, terutama proses pengajarannya bagi kalangan keluarga di perkotaan serta anak-anak muda. Terkadang, ketika para tetua menyarankan agar anak-anak di rumah diajak berkomunikasi atau diajarkan bahasa ibu, yakni Bahasa Daerah Bali, justru ada selentingan bahwa mempelajari Bahasa Bali tidak mendatangkan uang. Tetapi jika belajar Bahasa Inggris dan Mandarin, barulah cepat mendapatkan pekerjaan. “Ungkapan tersebut adalah keliru,” sebut Gede Karang.

Ditambahkannya, khusus di Bali, selain daya tarik wisata berupa keindahan alam dengan mata pencaharian yang agraris, seperti hamparan sawah berteras, serta alam perbukitan dan pegunungan yang indah dan alami, juga aset seni dan kebudayaan Bali yang dijiwai agama Hindu mesti diajegkan. Karena itulah, dengan didukung sikap keramahtamahan, tulus hati dan menghormati tamu, menjadikan Bali terkenal sampai kini. Tanpa adanya warisan seni budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu, dirasakan Bali tidak menarik, tidak terkenal sejak dulu sampai kini. Daya tarik dengan seni dan kebudayaan serta sikap masyarakat Bali, menjadikan sejak dulu orang mancanegara tertarik melihat langsung seni dan kebudayaan Bali. Maka datanglah para pelukis atau pun penulis buku yang menulis berbagai aspek masyarakat Bali dengan lingkungannya yang membuat keterkenalan Bali. ‘’Aset daya tarik itu harus dijaga, jangan sampai hilang tergerus karena pengaruh global. Desa adat dan krama adat menjadi penyokong agar Bali tetap becik (bagus), sehingga tetap menarik, tenar ke dura negara (mancanegara),’’ paparnya.

Gede Karang menambahkan, ujung tombak untuk mengajegkan Bali adalah seluruh krama yang ada di Bali. Kini, Gubernur Bali sangat  peduli dengan pelestarian dan berupaya mengembalikan Bali.  Berbagai upaya dilakukan dengan menerbitkan Peraturan Gubernur, salah satunya tentang Penggunaan Bahasa dan Aksara Bali. Desa adat pun dibantu anggaran untuk menggelar Bulan Bahasa Bali, dan di Desa Adat Subagan telah digelar melalui lomba menyalin Aksara Bali tingkat SD. *bud

BAGIKAN