Hingga Mei, Stok Pangan Utama Dipastikan Aman

Ketersediaan pangan utama di Bali, hingga Mei mendatang dipastikan aman.

Denpasar (bisnisbali.com) –Ketersediaan pangan utama di Bali, hingga Mei mendatang dipastikan aman. Kepala Bidang Ketersediaan, Distribusi dan Cadangan Pangan, Dinas Pertanian Provinsi Bali Made Tresna Kumara, Kamis (19/3) di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mengatakan, ketersediaan bahan pangan utama untuk saat ini masih aman sehingga masyarakat tidak perlu cemas apalagi sampai melakukan pembelian berlebih untuk cadangan pangan.

Dampak dari virus corona yang dikhawatirkan sejumlah kalangan akan mengganggu pasokan pangan diakui  Made Tresna. Hal tersebut juga menjadi perhatian serius pemerintah, sehingga pihaknya melakukan penghitungan ulang terhadap ketersediaan dan kebutuhan masyarakat dengan lebih teliti. “Kami sudah tahu, selama ini ada surplus stok pangan. Tetapi karena kondisi darurat saat ini, kami hitung ulang dan pastikan memang stok pangan mencukupi bahkan surplus,” papar Tresna.

Pihaknya memastikan, ketersediaan pangan masih aman hingga beberapa bulan ke depan. Dikatakan, stok pangan pada April hingga Mei untuk beras stok mencapai 138.214 ton dengan perhitungan konsumsi masyarakat per kapita per bulan 8,3 kilogram, maka kebutuhan beras April – Mei 107.979 ton maka ada kelebihan stok beras 30.214 ton. Cabai rawit stok mencapai 8.069 ton, sedangkan konsumsi hanya 2.862 ton sehingga ada surplus 5.207 ton. Bawang merah tersedia 6.845 ton dan kebutuhan 6.245 ton jadi masih ada sisa 600 ton. Hanya bawang putih yang masih kekurangan dari stok 1.445 ton sedangkan konsumsi 3.252 ton sehingga kekurangan 1.807 ton.

Jadi kekurangan bawang putih ini saja yang menjadi kekhawatirannya, sedangkan komoditas lainnya sangat aman. “Kekurangan bawang putih ini, karena kita sangat tergantung dari luar khususnya impor dari Tiongkok,” ungkapnya. Karena untuk budi daya bawang putih dikatakan membutuhkan daerah dengan geografi yang spesifik, sehingga agak sulit dikembangkan. Meski demikian, dikatakan, saat ini pemerintah Provinsi Bali sudah mulai mengembangkan bawang putih di Kintamani, namun belum berproduksi.

Melihat data tersebut, kebutuhan pangan di Bali rata-rata dapat dipenuhi oleh produksi sendiri. “Kalau ada komoditas yang produksinya kurang, akan dipenuhi dari pasokan luar daerah,” ungkapnya. Pihak Dinas Pertanian terus melakukan pendampingan kepada petani, sehingga meskipun situasi seperti saat ini di sentra produksi budi daya tetap dilakukan.”Dengan begitu target dan estimasi produksi pangan dapat tercapai,” pungkasnya. *pur

BAGIKAN