Hingga Akhir 2021, Pertumbuhan  Ekonomi Bali Berpotensi Terkontraksi

Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali 52-56 persen tergantung dari pariwisata.

Denpasar (bisnisbali.com)  –Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali 52-56 persen tergantung dari pariwisata. Berdasarkan riset Bank Indonesia (BI), akibat pandemi Covid-19, hanya Bali provinsi yang pertumbuhan ekonominya mulai kuartal pertama hingga kuartal keempat 2020 semuanya negatif, sedangkan provinsi lain mulai pulih.

“Di tengah pandemi Covid-19,  BI bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kondisi ekonomi masyarakat Bali. Itu perlu upaya serius, sebab jika tidak perekonomian Pulau Dewata berpotensi terkontraksi hingga akhir tahun,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho, Senin (24/5) kemarin.

Trisno menjelaskan, perekonomian Bali saat ini masih sangat bergantung pariwisata. Itu pun tidak hanya menyangkut wisatawan, namun juga UMKM, restoran dan pertanian. Dilihat dari 34 provinsi di Indonesia, Bali yang paling tertekan dengan pertumbuhan ekonomi minus 9,31 persen year on year (yoy) pada 2020.

Pihaknya memprediksi pada Juli 2021 atau di kuartal ketiga dan keempat kendati sudah ada perbaikan, tidak terlalu tinggi  atau tidak terlalu berdampak karena wisatawan Nusantara masih sedikit. Pada 2020 lalu, wisatawan Nusantara di bawah 10.000 orang satu kali datangnya.

Oleh karena itu, penting adanya work from Bali dengan mendatangkan wisatawan Nusantara atau ASN bekerja di Bali. Sebab seperti diketahui, Australia saat ini juga memfokuskan kepada domestic market. Begitupula  Amerika, Tiongkok dan Eropa.  “Indonesia yang punya 34 provinsi tentunya juga ingin fokus ke domestik mengingat Bali masih tertinggal dari provinsi lainnya,” paparnya.

Trisno menyebut di Bali terdapat 140.000 kamar hotel  dan jika diperhatikan terjadi penurunan sangat dalam mengingat sudah 13-14 bulan pendapatannya  minim sekali. “Mungkin yang ramai Badung atau Denpasar, namun itu pun masih sekitar 10-30 persen saja. Belum lagi kondisi  Sanur pinggiran, Ubud, Karangasem dan Lovina yang masih sepi sehingga Bali tidak ada jalan lain untuk menggarap pasar domestik,” jelasnya. *dik

BAGIKAN