Hingga 2022, Dunia Usaha Masih Tahan Investasi

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan, mayoritas dunia usaha masih menahan investasi, bahkan sampai dengan tahun 2022.

PARIWISATA – Pantai Semawang sepi pengunjung. Rencana investasi yang akan dilakukan dunia usaha masih menunggu normalnya perkembangan pariwisata.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan, mayoritas dunia usaha masih menahan investasi, bahkan sampai dengan tahun 2022. Rencana investasi yang akan dilakukan dunia usaha masih menunggu normalnya perkembangan pariwisata di Bali mencapai 76 persen.

“Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan rata-rata penurunan investasi sebesar 0 hingga 20 persen,” kata Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi dari KPw BI Bali Rizki Ernadi Wimanda, di Renon.

Ia menjelaskan, hal itu terlihat dari hasil survei yang menunjukkan rencana investasi pada 2020 yaitu 3,1 persen meningkat dari normal, 15,5 persen menurun dari normal dan 81,4 persen tidak melakukan investasi. Sedangkan, rencana investasi pada 2021 yaitu 14 persen meningkat dari normal, 27,9 persen menurun dari normal dan 58,1 persen tidak melakukan investasi. Sementara, prediksi pada 2022 yaitu 33,3 persen rencana investasi meningkat dari normal, 16,3 persen menurun dari normal dan 50,4 persen tidak melakukan investasi.

Lebih lanjut Deputi Kepala KPw BI Bali ini pun mengungkapkan, jika melihat survei hingga triwulan III tahun 2020, dunia usaha di Bali masih menahan investasi yang dilakukan. “Dalam keadaan normal, besar investasi yang dilakukan mencapai 30 sampai 50 persen dari besar profit yang didapatkan,” ujarnya.

Sumber pendanaan investasi masih berdasarkan modal sendiri mencapai 87,3 persen, diikuti dengan pinjaman bank 12,5 persen, lembaga keuangan lain (koperasi, IKNB) 0,1 persen dan nonlembaga keuangan 0,1 persen. Ia pun menerangkan, adanya pandemi Covid-19 berdampak terhadap penundaan investasi yaitu mencapai 15,5 persen dari rencana serta pembatalan investasi 3,9 persen dari rencana, 66,67 persen tidak ada rencana.

Sementara itu, 13,95 persen masih menjalankan investasi sesuai dengan rencana. Penundaan investasi tersebut disebabkan oleh penurunan cashflow oleh perusahaan 65,52 persen. Perubahan kebijakan dari KP 13,79 persen. Kapasitas utilisasi rendah 10,34 persen dan lainnya 10,34 persen.

Jenis investasi yang ditunda, kata Rizki, 42,4 persen renovasi tempat usaha, 30,3 persen pembelian peralatan usaha, perluasan tempat usaha 12,1 persen dan 9,1 persen perbaikan IT. Sementara bila melihat dari pangsa investasi dalam kondisi normal berasal dari pembelian peralatan usaha, renovasi atau perbaikan tempat usaha, perluasan tempat usaha Investasi dalam bidang teknologi informasi. *dik

BAGIKAN