Hindari Kerugian Lebih Besar, Ini yang Harus Dilakukan Pengusaha Kuliner

Perpanjanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) seiring lonjakan kasus Covid-19, sangat mempengaruhi pendapatan usaha khususnya kuliner.

Ketua Kadin Tabanan, Loka Antara, SPT., M.Si.

Tabanan (bisnisbali.com) – Perpanjanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) seiring lonjakan kasus Covid-19, sangat mempengaruhi pendapatan usaha khususnya kuliner. Lantaran, salah satu hal yang diatur dalam kebijakan tersebut adalah terkait pembatasan jam operasional yang makin dipersingkat, yakni hanya buka hingga pukul 20.00 wita.

“Memang perpanjangan PPKM berdampak pada semua sektor. Tapi dampak paling besar akan dirasakan pebisnis kuliner, karena batas waktu tersebut bertepatan dengan jam makan malam yang biasanya banyak menerima konsumen,” kata Ketua Kadin Tabanan, Loka Antara, SPT., M.Si., Kamis (28/1).

Menurutnya, perpanjangan PPKM memang merupakan kebijakan dilematis. Di satu sisi, tren lonjakan kasus Covid-19 perlu diantisipasi. Di sisi lain, ada sejumlah sektor usaha yang terdampak signifikan, terutama masyarakat yang bergerak di bidang usaha kuliner karena jam makan malam biasanya hingga pukul 20.00 wita. “Artinya, jam makan malam sekaligus peluang pendapatan ini terpangkas, sehingga pelaku usaha kuliner ini berpotensi mengalami penurunan pendapatan,’’ tuturnya.

Bercermin dari kondisi tersebut, menurut Loka, guna menyikapi PPKM sekaligus sebagai antisipasi pandemi berkepanjangan dengan tetap bisa menjamin kontinuitas pendapatan usaha, maka pebisnis kuliner termasuk juga usaha lainnya harus mengubah pola penjualan. Jika sebelumnya hanya fokus menggunakan pola konvensional atau offline, kini pola tersebut sudah harus beralih ke penjualan secara online.

“Bagaimana pun di masa pandemi ini kesehatan adalah yang paling utama agar kemudian bisa menggeliatkan ekonomi nasional. Untuk itu, kebijakan PPKM ini harus kita sambut dengan mencari alternatif lain cara penjualan usaha, tanpa menimbulkan dampak kerugian,” ujarnya.

Loka Antara menyebutkan, saat ini di tengah era digitalisasi potensi market atau serapan pasar dari sistem penjualan melalui online cukup besar. Hal itu seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone di kalangan masyarakat dan perilaku konsumen yang ingin cepat dan praktis dalam membeli berbagai hal. Oleh karena itu, dia menyarankan pelaku usaha kecil ini jangan ragu untuk melirik model penjualan secara digital tersebut untuk bisa tetap mengantongi kontinuitas pendapatan usaha di tengah kondisi pandemi yang belum pasti sampai kapan akan membayangi.

“Kami secara pribadi maupun secara organisasi Kadin meminta agar kebijakan pemerintah ini mari disambut baik, jangan mengeluh. Mari sikapi dengan mengubah strategi bisnis mulai menggarap bisnis secara online,” tandasnya. *man

BAGIKAN