Hibah Pariwisata akan Bangkitkan Sektor Perhotelan  

Pemerintah pusat telah mengelontorkan dana hibah pariwisata untuk membangkitkan pariwisata Indonesia akibat pandemi Covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pemerintah pusat telah mengelontorkan dana hibah pariwisata untuk membangkitkan pariwisata Indonesia akibat pandemi Covid-19. Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali, Komang Artana mengatakan, dana hibah dimanfaatkan untuk persiapan oleh industri pariwisata khususnya hotel dan restoran menjamu wisatawan mancanegara (wisman) ketika Bali dibuka untuk pasar mancanegara.

Diungkapkannya, IHGMA selaku sebuah asosiasi profesi menyikapi manfaat hibah pariwisata bagi hotel-hotel yg masuk dalam daftar berhak menerima hibah dari pemerintah. Ia menjelaskan, industri pariwisata Bali tentunya sangat mengapresiasi inisiasi yang dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk membangkitkan sektor pariwisata dengan memperjuangkan dana hibah dan bisa direalisasikan.

Artana menilai, dana hibah pariwisata sudah pasti dapat menjadi bantuan bagi kebanyakan hotel. Sektor perhotelan saat ini mengalami kesulitan dalam beroperasi. “Bahkan banyak hotel harus tutup karena ketiadaan wisatawan terutamanya mancanegara,” ucapnya.

Menurutnya, dana hibah bisa digunakan sebagai dukungan dalam me-reaktivasi destinasi dan usaha pariwisata yang telah mati suri selama delapan bulan, sejak Februari 2020 lalu. Dana hibah bisa diprioritaskan bagi hotel yang saat ini setengah atau tutup operasionalnya. Ini sebagai persiapan sebelum siap menerima tamu saat border dibuka. Semua hotel wajib menerapkan standar Tatanan Kehidupan Bali Era Baru atau lebih dikenal dengan Sertifikasi Clean, Health, Safety and Environtment (CHSE).

Komang Artana menambahkan, besar harapan IHGMA agar pemerintah dapat melihat bentuk hibah secara holistik artinya agar benar-benar dapat diserap oleh sebagian besar objek penerima secara proporsioanal, dengan mempermudah persyaratan yang digunakan. Sebagai contoh yang paling nyata, cukup memiliki TDUP, tidak harus aktif, karena dalam masa pandemi banyak usaha pariwisata yan tidak dapat memperpanjang TDUP karena kendala biaya saat pandemi Covid-19. *kup

BAGIKAN