Harga Tinggi, Beras Hitam Tetap Diminati

Nama beras hitam mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat khususnya di Bali karena beberapa di antaranya telah menjadikannya makanan pokok pengganti beras putih.

Denpasar (bisnisbali.com) –Nama beras hitam mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat khususnya di Bali karena beberapa di antaranya telah menjadikannya makanan pokok pengganti beras putih. Kandungan antosianin di dalamnya menjadi alasan beras hitam dipilih masyarakat dalam tren gaya hidup sehat.

Salah seorang petani sekaligus suplayer beras hitam, Dewi Noviyanti, saat ditemui di Denpasar, Senin (26/10) kemarin, mengatakan meski harga beras hitam tinggi dan naik, tetap menjadi pilihan masyarakat. “Sejak awal Oktober harga beras hitam mengalami kenaikan dari Rp 28.000 per kilogram menjadi Rp 31.000 per kilogram,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Dewi, peminat beras hitam tak berkurang. Setiap bulannya dia bisa menjual rata-rata lebih dari 200 kilogram. Konsumennya pun tidak hanya di Bali, namun juga dari beberapa wilayah di luar Bali seperti Jakarta,  Surabaya, Bandung dan kota besar lainnya  di Indonesia.  Wanita asal Tabanan ini mengatakan, banyaknya peminat beras hitam membuat beberapa sentra pertanian padi di Bali fokus mengembangkan jenis beras ini,  seperti di kawasan Jatiluwih, Kabupaten Tabanan.  Kenaikan harga beras hitam sekarang ini karena panen di beberapa sentra penanaman di kawasan Tabanan mengalami kemunduran. “Saat ini harga beras naik  karena belum musim panen, sehingga stok cukup langka,” jelas Dewi.

Meskipun stoknya sedikit, pihaknya masih mampu memenuhi permintaan pasar. Salah satu caranya adalah dengan membeli gabah beras hitam dari petani lainnya yang masih ada di kawasan Kabupaten Tabanan. Jika stok benar-benar habis, ia mengaku memberikan alternatif kepada para pelanggannya untuk mengonsumsi beras lainnya, seperti beras merah atau beras cokelat. “Selama ini pelanggan masih mengerti. Kalau kami kehabisan stok, para pelanggan tetap mau menunggu sampai kami punya stok lagi,” lanjutnya.

Hal senada juga diakui oleh penjual beras hitam lainnya,  Dwivera. Wanita yang juga menjual beras merah ini menyebut permintaan kedua jenis beras ini cukup banyak. Terlebih diberikan harga promo. “Kami baru memulai sejak awal pandemi Covid-19 lalu, karena keluarga yang bekerja di sektor pariwisata terkena dampak. Ternyata peminatnya cukup banyak dan terus bertambah,” jelasnya.  *wid

BAGIKAN