Harga Telur di Bawah BEP, Pemerintah Diminta Bantu Peternak

Harga telur ayam pada level peternak di Kabupaten Tabanan mengalami penurunan tajam.

AYAM PETELUR - Salah satu kandang ayam petelur di Kabupaten Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) – Harga telur ayam pada level peternak di Kabupaten Tabanan mengalami penurunan tajam. Saat ini harga jual sudah menyentuh Rp 1.100 per butir atau berada di bawah Break Even Point (BEP) yang dipatok yaitu Rp 1.200 per butir.

Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan, Darma Susila, Rabu (13/1) kemarin, mengungkapkan harga telur ayam di tingkat peternak turun tajam saat ini setelah sempat menyentuh angka Rp 1.400 per butir pada minggu kedua Desember lalu sekaligus merupakan harga tertinggi sepanjang lima tahun terakhir. ‘’Setelah menyentuh level tertinggi pada pertengahan Desember lalu, harga telur kemudian bergerak terbalik atau turun hingga akhirnya menyentuh harga sekarang ini,”  tuturnya.

Ia memprediksi turunnya harga telur  di tingkat peternak di Tabanan berpotensi berlanjut. Sebab, komoditas yang sama di Jawa Timur merupakan sentra produksi nasional dengan pangsa pasar hingga Jabodetabek.  Seiring turunnya harga maka mereka akan memperluas pangsa pasarnya ke daerah lain, termasuk Banyuwangi. Dampaknya, produksi telur dari Bali termasuk Tabanan yang beberapa juga dijual ke Banyuwangi akan sulit bergerak atau mengalami penurunan serapan.

 “Serapan yang sulit bergerak antarpulau akan berpengaruh pada makin tertekannya harga telur di tingkat peternak di Bali khususnya di Tabanan. Terlebih lagi jika stok yang ada menumpuk di gudang nantinya. Mau tidak mau peternak pasti tidak merelakan produksinya dijual murah,” ujar Darma Susila.

Menyikapi kondisi ini, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Nasional sudah bersurat ke pemerintah pusat agar mencari solusi terkait bantuan kepada peternak, karena harga telur di Bali sudah berada di bawah BEP sehingga merugikan peternak. Apalagi turunnya harga jual  tidak dimbangi dengan biaya produksi yang terus naik. Khusus harga pakan sudah menyentuh Rp 6.000 per kilogram per awal Desember lalu.

Menurutnya, penurunan harga telur kemungkinan disebabkan oleh kelebihan beredarnya telur fertil (telur warna putih) yang tidak ditetaskan di pasaran. Itu terjadi seiring adanya kebijakan pembatasan peredaran ayam potong belum lama ini. Penyebab lainnya adalah serapan pasar akan telur ayam mengalami penurunan akibat pembatasan jam operasional usaha makanan dengan adanya kebijakan PPKM.

Darma Susila menambahkan, menyikapi anjloknya harga telur ayam ini, kalangan peternak akan melakukan afkir, khususnya memangkas ayam yang telah berproduksi 75 persen selama ini. Tetapi alternatif tersebut juga memiliki konsekuensi pada menurunnya jumlah produksi, sehingga akan memicu kenaikan harga telur saat kondisi normal nantinya.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan pemerintah agar bantuan yang diberikan ke masyarakat karena terdampak pandemi Covid-19 bisa disalurkan dalam bentuk barang atau bahan pangan. Bantuan dalam bentuk barang tidak saja membantu masyarakat. Petani dan peternak juga ikut terbantu dengan terserapnya produksi mereka dalam harga yang wajar. *man

BAGIKAN