Harga Telur di Atas BEP, Peternak Ayam Petelur di Tabanan justru Kurangi Populasi  

Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan memilih mengurangi produksi dengan cara menurunkan populasi isian kandang.

Tabanan (bisnisbali.com) – Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan memilih mengurangi produksi dengan cara menurunkan populasi isian kandang. Hal ini dilakukan meski harga produksi di pasaran tengah berada di atas break even point (BEP).

Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan, Tabanan, Darma Susila, Kamis (3/9) kemarin, mengungkapkan, sempat terjadi penurunan harga telur dari Rp 1.300 per butir menjadi Rp 900 butir pada tiga bulan lalu. Namun saat ini harga telur ayam di tingkat peternak sudah mulai bergerak naik ke level Rp 1.200 per butir, sekaligus berada di atas kisaran angka BEP yang di level Rp 1.150 per butir. “Harga terbaru ini memang di bawah harga sebelumnya, namun posisinya sudah di atas kisaran BEP untuk ayam petelur,” tuturnya.

Kata Darma, dengan harga yang berada di atas BEP, kondisi tersebut tidak serta merta disambut gembira sehingga sejumlah peternak ayam petelur belum memutuskan untuk menambah populasi atau isian kandang. Sebaliknya, kini sejumlah peternak justru mengurangi populasi kandang.

“Saat ini saya mengurangi populasi mencapai 40 persen dari isian normal sejak awal Agustus 2020 lalu. Sebelumnya, isian kandang yang mencapai 40 ribu ekor menjadi hanya 15 ribu ekor ayam saat ini,” ujarnya.

Langkah tersebut dilakukan peternak lantaran menilai kondisi saat ini masih berisiko. Salah satunya, riskan terkena imbas ketika harga ayam potong ini anjlok seperti saat ini.

Imbas dari anjloknya harga ayam potong ini terbukti terjadi pada tiga bulan lalu. Saat itu, ketika harga daging ayam anjlok menyentuh Rp 7.000 per kg, kondisi tersebut berdampak pada turunnya serapan telur di masyarakat sehingga harga telur menjadi turun. Itu terjadi karena anjloknya harga ayam membuat konsumen lebih memilih mengkonsumsi daging ketimbang telur. “Ditambah lagi dipengaruhi dengan tidak adanya momen keagamaan atau hari raya yang bisa mendongkrak harga, sehingga harga telur menjadi turun tajam tiga bulan lalu,” tandasnya.

Pertimbangan lainya adalah kenaikan biaya produksi khususnya pakan yang mengarah pada lonjakan harga. Salah satunya, harga jagung yang mengarah naik dari Rp 3.800 per kg ke Rp 4.200 per kg.

Terkait dampak pandemi Covid -19 yang membuat daya beli konsumen menurun, dia menyebut, itu memang menjadi pertimbangan bagi peternak dalam berusaha. Namun, untuk jadi acuan dalam menambah populasi kandang, kondisi daya beli ini bukan menjadi prioritas yang utama. Sebab asumsinya, komoditas telur di masyarakat sudah diposisikan hampir setara sama seperti beras atau bahan baku pokok lainnya, sehingga telur ayam ini menjadi kebutuhan yang selalu diperlukan.

Saat ini kalau pun terjadi penambahan populasi di kalangan peternak ayam petelur ini lebih difungsikan kepada regenerasi guna menjaga produktivitas. Misalnya populasi yang sebelumnya berada di angka 10 ribuan ekor, kemudian diafkir 2.000 ekor untuk kemudian dimasukan DOC sejumlah 2.000 ekor. *man

BAGIKAN