Harga Salak Pupuan Terdongkrak Hari Raya

Para petani salak madu di Kabupaten Tabanan tengah sumringah pada musim panen raya di tengah pandemi Covid-19 tahun ini.

Tabanan (bisnisbali.com) –Para petani salak madu di Kabupaten Tabanan tengah sumringah pada musim panen raya di tengah pandemi Covid-19 tahun ini. Betapa tidak, musim panen yang berbarengan dengan banyak hari raya membuat harga buah bercita rasa manis ini laku di pasaran dengan kisaran harga stabil.

Petani salak madu di Banjar Kebon Jero, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Ketut Suardika, S.E., Minggu (14/2), mengatakan panen raya berlangsung sejak akhir Desember 2020. Panen kemungkinan berlangsung hingga Maret mendatang.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini dengan adanya pandemi dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro, berpengaruh pada pangsa pasar. Saat ini serapan pasar dominan hanya mengandalkan pasar lokal Bali. “Bila kondisi normal produksi biasa dilempar antarpulau, kini sebagian besar hasil panen hanya mengandalkan pasar lokal Bali,” tuturnya.

Dijelaskannya, tahun ini tidak banyak produksi salak madu Pupuan yang dipasarkan ke luar Bali karena pertimbangan serapan pasar untuk antarpulau tidak besar akibat turunnya daya beli konsumen akibat pandemi Covid-19. Selain itu, karena biaya pengiriman cukup tinggi dan ditambah dengan adanya risiko salak yang mudah busuk karena lamanya waktu pengiriman dampak PPKM mikro di Jawa.

“Di pasar lokal, serapan pasar akan salak madu ini juga tidak seperti biasanya karena di beberapa tempat terjadi penurunan serapan seiring dengan minimnya kunjungan wisatawan ke Bali. Salah satunya terjadi di kalangan swalayan atau toko modern,” tandasnya.

Jelas Suardika, tahun ini meski panen hanya mengandalkan pasar lokal Bali, untungnya serapan pasar masih optimal. Itu tercermin tidak ada barang (salak) petani yang sampai busuk karena tidak di panen selama ini. Semua salak madu petani terserap dengan baik karena musim panen ini berbarengan dengan banyaknya hari raya yang terjadi selama Januari hingga Februari ini. Mulai dari Purnama, Saraswati, Pagerwesi, Tumpek Landep, hingga hari raya Imlek sehingga itu membuat produksi petani bisa terserap dengan baik.

Panen raya tahun ini harga salak madu di tingkat petani cenderung stabil atau sama seperti tahun sebelumnya. Harga di kisaran Rp 6.000 per kg hingga Rp 8.500 per kg, tergantung kualitas. Sedangkan di tingkat pedagang eceran harga salak madu ini berkisar Rp 13.000 sampai Rp 15.000-an per kg, tergantung kualitas.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, musim panen tahun ini produksi salak madu Banjar Kebon Jero, Desa Munduk Temu mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya per pohon mampu menghasilkan 5 kg pada musim panen, kini jumlahnya hanya mencapai 3 sampai 4 kg per pohon. Dia memprediksi penurunan produksi disebabkan dampaik cuaca ektrem ditandai dengan musim panas berkepanjangan pada akhir tahun lalu dan musim hujan di awal tahun ini yang mengakibatkan terganggunya proses penyerbukan. “Cuaca ektrem ini juga menyebabkan musim panen gadu yang harusnya terjadi pada September lalu untuk salak madu ini menjadi tidak ada,” ujarnya. *man

BAGIKAN