Harga Melonjak, Petani Jahe Merah di Tabanan ’’Gigit Jari”

Di tengah meningkatnya harga jual jahe merah seiring dengan naiknya permintaan pasar, karena dipercaya banyak kalangan sebagai bahan ramuan yang efektif untuk menjaga tubuh tetap fit di tengah ancaman virus corona.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di tengah meningkatnya harga jual jahe merah seiring dengan naiknya permintaan pasar, karena dipercaya banyak kalangan sebagai bahan ramuan yang efektif untuk menjaga tubuh tetap fit di tengah ancaman virus corona. Ternyata, kondisi tersebut tak dibarengi dengan untungnya produsen atau petani jahe merah saat ini.

“Di tengah naiknya harga jahe merah, kami tidak bisa menikmati hal tersebut. Sebab, bibit yang sebelumnya digelontorkan oleh dinas Pertanian Tabanan, ternyata setelah ditanam tidak bisa tumbuh makismal, sehingga produksi jahe merah kami bisa dipastikan tidak menghasilkan pada musim panen yang biasanya terjadi pada Oktober mendatang,” tutur salah seorang petani jahe, I Made Jirnawan, Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga.

Terangnya, untuk pengembangan budi daya jahe di Tabanan, sebelumnya pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Tabanan menggelontorkan bantuan bibit berupa jahe merah dan jahe gajah dengan alokasi 10 hektar kepada sejumlah petani di Desa Tua, Kecamatan Marga. Sambungnya, bantuan tersebut kemudian mulai di tanam petani pada akhir Oktober 2019, namun sayang pascapenanaman atau pada desember tahun yang sama bibit jahe merah tersebut tidak bisa tumbuh sesuai harapan dan untuk bibit jahe gajah hanya tumbuh sebagian kecil saja.

“Akibatnya saya yang awalnya rencana menanam bantuan bibit ini hingga luasan 1 hektar, karena penanaman mengalami kendala, bantuan bibit yang gagal tumbuh tersebut saya cabut dan luasanya dipersempit untuk menekan kerugian yang lebih banyak lagi,” ujarnya.

Jelas Jirnawan, karena mengulang kembali proses tanam, kenaikan harga jahe merah dipasaran  ini tentu terlewatkan karena prediksi panen baru akan terjadi pada Oktober 2020 nanti. Sebelumnya, padahal untuk proses tanam bantuan bibit ini sudah mengeluarkan sejumlah biaya sekitar di atas Rp 5 juta. Biaya itu meliputi di antaranya, proses olah tanah, pemupukan hingga ongkos buruh.

Sambungnya, penyebab gagalnya petumbuhan bantuan bibit jahe merah ini, karena bantuan bibit jahe yang mendatangkan dari Jawa ini masih tergolong muda atau belum cocok untuk dijadikan bibit. Akuinya, terkait itu, pihaknya sempat mengeluhkan hal tersebut ke dinas dan benar saja ternyata bibit tidak tumbuh dan akhirnya terpaksa terbuang percuma.

“Sebenarnya dari pengalaman saya sebelumnya, bibit jahe yang bagus adalah minimal berumur 10 bulan ke atas. Usia bibit itu memiliki peluang untuk tumbuh baik,” tandasnya.

Sementara itu, selama ini pangsa pasar jahe ini memiliki konsumen masing-masing. Paparnya, untuk jahe gajah pangsa pasar cukup luas karena dimanfaatkan sebagai baha baku bubu dapur, sedangkan untuk pangsa pasar jahe merah ini mengkhusus karena hanya dimintai oleh konsumen tertentu yang digunakan sebagai ramuan obat tradisional.

“Itu pula yang kemudian membedakan harga jual dipasaran. Saat ini, harga jahe gajah di pasaran mencapai Rp 35.000 per kg, naik dari sebelumnya yang dibandrol Rp 30.000 per kg. Sementara untuk harga jahe merah rata-rata lebih mahal dari harga jahe gajah. Namun, saat ini saya kurang mengikuti pergerakan harga jahe merah karena tidak memiliki stok,” kilahnya.*man

BAGIKAN